Dalam mahakaryanya, Pendidikan Kaum Tertindas, Paulo Freire membedah sebuah konsep yang sangat relevan dengan kondisi kita saat ini: Invasi Budaya. Freire menjelaskan bahwa salah satu instrumen paling efektif untuk melanggengkan penindasan bukanlah dengan kekerasan fisik, melainkan dengan memaksakan cara pandang penindas ke dalam alam bawah sadar si tertindas.
Jika dulu penjajahan datang dengan bedil dan rantai besi, penjajahan mental bagi mahasiswa hari ini datang melalui algoritma, tren gaya hidup, dan standar kesuksesan yang serba instan. Penjajahan mental ini bekerja dengan cara yang sangat halus ia membuat mahasiswa merasa sedang memilih jalannya sendiri, padahal mereka hanya sedang memilih dari menu yang sudah disiapkan oleh sistem yang menindas.
Hari ini, invasi itu sedang terjadi di kampus-kampus kita. Mahasiswa, yang secara historis adalah agen perubahan, kini perlahan berubah menjadi agen kepatuhan.
Invasi budaya bekerja dengan sangat halus. Ia meyakinkan kita bahwa nilai-nilai, gaya hidup, dan standar produktivitas kita adalah sesuatu yang kuno dan tidak relevan. Entitas eksternal, entah itu pasar, media sosial, atau tren global masuk ke dalam pikiran mahasiswa dan memaksakan standar mereka.
Akibatnya, mahasiswa tidak lagi melihat realitas dengan kacamatanya sendiri. Kita lebih bangga mengutip teori-teori Barat yang tidak membumi atau mengejar gaya hidup konsumtif daripada mendalami persoalan di depan mata. Kita menjadi asing di kampus sendiri; raga kita ada di sana, tapi jiwa kita telah berlutut pada kepalsuan yang dianggap modern.
Dampak dari invasi budaya adalah terciptanya jembatan pemisah yang melahirkan gengsi dan rasa takut. Mahasiswa yang mencoba tetap idealis justru sering mendapat "justifikasi" negatif dari lingkungannya sendiri. Ketika berargumentasi dengan tajam, dianggap bahasanya terlalu tinggi, Ketika menyusun konsep yang mendalam, dianggap membuang waktu, Ketika menolak logika kapitalistik, dianggap tidak realistis.
Inilah keberhasilan invasi budaya ia mereduksi produktivitas mahasiswa hanya pada hal-hal yang bersifat teknis dan pragmatis. Pendidikan tidak lagi digunakan sebagai alat pembebasan, melainkan alat penjinakan.
Tragedi ini telah menyentuh jantung pertahanan mahasiswa, yaitu organisasi. Hari ini, organisasi mahasiswa mulai kehilangan peminat karena narasi pragmatis yang membandingkan realita yang terjadi pada persoalan etika. Rumah intelektual kita dibelenggu oleh narasi yang menjauhkan mahasiswa dari dinamika pergerakan yang nyata.
Sampai kapan kita akan diam melihat kondisi yang menimpa "Manusia Super" (Mahasiswa) ala Nietzsche ini? Jika kita membiarkan diri kita terus-menerus diinvasi, kita hanya akan menjadi barisan robot yang fasih bicara, namun buta terhadap realitas sosial.
Maka dari itu, tidak ada jalan lain selain melakukan perlawanan balik (counter). Kita harus memiliki keberanian untuk berdinamika kembali. Jangan habiskan energi pada hal-hal yang tidak substansial hanya demi legitimasi publik, Kembalilah pada kesejatian mahasiswa sebagai analisator dan penggerak konkret.
Invasi budaya ini pada akhirnya membuat mahasiswa merasa "bebas" padahal sedang didikte. Penjajahan ini bekerja dengan merusak rasa percaya diri intelektual kita, sehingga kita lebih takut dicap "tidak relevan" oleh media sosial daripada dicap "tidak berguna" bagi masyarakat. Kita terjebak dalam produktivitas semu yang hanya mengejar validasi angka dan sertifikat, namun lumpuh saat dihadapkan pada kontradiksi sosial yang nyata.
Akibatnya, mahasiswa tidak lagi menjadi subjek yang membentuk sejarah, melainkan hanya menjadi objek atau sekrup kecil dari mesin besar kapitalisme yang pragmatis. Inilah belenggu yang harus dihancurkan melalui revolusi pola pikir; kita harus berani menolak narasi luar yang menjinakkan nalar, merebut kembali identitas sebagai kaum pemikir, dan mengembalikan organisasi sebagai tungku api pergerakan yang membumi.
Realitas yang kompleks ini tidak butuh mahasiswa yang sekadar "eksis," tapi butuh agen yang mempunyai analisa yang tajam dan gerakan nyata. Mari melakukan revolusi kecil-kecilan mulai dari pola pikir. Tolak setiap narasi yang mengotori wadah intelektual kita. Rebut kembali produktivitasmu, rebut kembali identitasmu. Bersatulah!
Komentar (0)