Logo
Buku, Ruang, dan Denyut Kebudayaan

Buku, Ruang, dan Denyut Kebudayaan

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
📝 Kebudayaan kita
👁️ 598 • ❤️ 3 • 💬 1
⏱️ 1 menit
📅 05 Feb 2026
Ringkasan:
Komunitas literasi bukan hanya soal membaca, melainkan cara dan gaya hidup. Ia mengajarkan bahwa kebudayaan tidak selalu lahir dari gedung megah atau kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang diulang dengan penuh kesadaran: dari halaman ke halaman, dari obrolan ke obrolan, dari ruang publik ke ruang domestik, dan dari sanalah kebudayaan serta peradaban kita akan merecup dan merekah.
Aa AA

Di hari-hari terakhir keliling Jogja—yang sebetulnya bukan kali pertama saya datang ke sini—saya dan teman seperjalanan kian mendapati pelbagai komunitas literasi yang variatif. Bagi saya, keberagaman ini bukan sekadar penanda geliat literasi, tetapi gejala kebudayaan yang merekah. Manfaatnya cukup banyak saya kira, pembaca akan memiliki sejumlah pilihan suasana: yang nuansanya santai dengan pepohonan rindang ada; yang sedang juga ada; dan yang agak mewah juga ada. Keanekaragaman ini, tentu bukan semata perihal estetika belaka, melainkan bagaimana ruang baca menyesuikan diri dengan habitus sosial pembacanya.


Saya teringat dengan Pierre Bourdieu. Ia pernah menyampaikan bahwa selera—termasuk selera atas ruang—tidak pernah netral. Ia dibentuk oleh latar kelas, pengalaman, dan modal kultural. Olehnya, ketika wahana literasi hadir dalam berbagai kriteria, pembaca dengan latar belakang tertentu tidak akan merasa canggung untuk bergabung. Semisal, yang terbiasa lesehan di bawah rindangnya pohon tidak dipaksa masuk ke ruangan yang membuatnya kurang nyaman; sebaliknya, mereka yang akrab dengan interior rapi dan sunyi juga dapat menemukan rumahnya sendiri.


Bukan hanya itu, aneka suasana dan nuansa bisa menjembatani orang-orang yang sejauh ini terbilang jarang menikmati suasana mewah lantaran satu dan lain hal. Artinya, dengan adanya varian ini, mereka dapat mengakses dengan gratis tanpa risau dengan isi dompet dan seterusnya. Ya, demokratisasi akses, kira-kira begitu. Tapi ini bukan demokratisasi prosedural loh ya,—bukan soal siapa pilih siapa—melainkan kesetaraan dan penyamarataan peluang untuk mengalami sesuatu secara kultural. Saya kira tuan dan puan sudah cukup tahu akan hal ini.

Iklan


Ruang Jeda


Baik, secara antropologis, ruang-ruang baca ini juga dapat dipahami sebagai third place, meminjam istilah Ray Oldenburg: ruang antara rumah dan tempat kerja yang menjadi titik di mana orang berjumpa tanpa beban peran formal. Di Jogja, setidaknya berdasarkan pengamatan sekilas, komunitas buku yang menjelma warung gagasan, pendopo modern, atau surau intelektual—yang mana orang datang bukan untuk unjuk kepandaiaan tetapi berbagi—merupakan bagian dari third place itu. Dan hal ini patut dikembangkan serta ditiru di berbagai kota lain tentunya.


Buku, pada ranah ini, seolah hadir sebagai medium bagi relasi sosial di setiap sudut keseharian, dan menjadi denyut nadi kebudayaan serta mendetak-jantungi peradaban. Ia seakan menghadirkan pengalaman lintas kelas, lintas kebiasaan, bahkan lintas simbol sosial kemasyarakatan. Dalam istilah Clifford Geertz itu menarik: buku menjadi bagian dari webs of meaning—jejaring makna yang ditenun-sulam oleh manusia untuk memahami dirinya sendiri. mind blowing, bukan?



Sekaitan dengan itu, Jogja dengan sejarah panjang sebagai kota pelajar dan kota budaya, menyediakan lahan subur bagi berkecambahnya geliat ini. Seperti toko buku swa-kelola, rumah baca, festival literasi, hingga kafe-kafe yang menyediakan diskusi dan ruang temu bagi pegiat literasi dari berbagai lintas disiplin. Semuanya membentuk apa yang biasa kita sebut sebagai ekosistem literasi. Bukan ekosistem yang seragam, tapi beragam; saling berpiling satu sama lain, terkadang tumpang-tindih, kadang berisik, dan kadang juga sunyi. Tapi justru dalam ‘ketidakteraturan’ serta keanekaragaman itulah kebudayaan akan lebih hidup nan bermakna.


Literasi sebagai Gaya Hidup


Terang yang telah terpantik ini, sekiranya tidak berhenti di cafeteria, toko buku, serta komunitas-komunitas literasi lainnya, tetapi juga merambah hingga ke rumah tangga. Sebab membaca yang nampak di ruang publik saja, namun mati di ranah domestik akan rapuh nan ringkih. Ia akan bergantung pada agenda, acara, momentum, serta festival; bukan pada kebiasaan dan keseharian, kendati untuk penggalakan di masa transisi ke Indonesia yang lebih literat ini penting disemarakkan dan juga diramaikan.


 

Selain itu, menjadikan buku sebagai bagian dari rumah tangga tidak lain adalah menanamkan etos berpikir dalam kehidupan sehari-hari. Buku, pada jantung pembahasan ini, menjadi batu penyangga kehidupan rumah tangga, dan kalau memungkinkan menjadi “penghias” ruang tamu; menggantikan sendok, piring, rice cooker dan persolen serta tas-tas atau sepatu sebagaimana marak terlihat di sebagian besar rumah-rumah penduduk Negeri ini. Artinya, kehadirannya tidak sebagai ornamen mati melainkan penanda nilai. Ruang tamu dengan buku seolah simbol bahwa dialog, pertanyaan, dan pencarian makna hidup dihormati di rumah itu. Kurang lebih demikian.



Segendang sepenarian dengan itu, dalam pandangan filsafat budaya, rumah bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga ruang pembentukan dan pemahatan kepribadian. Hannah Arendt pernah menyinggung ini. Ia menekankan pentingnya ruang privat sebagai fondasi bagi ruang publik yang sehat. Maka rumah tangga yang karib dengan buku, sebetulnya, sedang mempersiapkan warga negara yang lebih reflektif, adaptif, dan kreatif, serta lebih tahan terhadap ketidakpastian hidup nantinya. Dan tentu, sedikit kebal oleh gosip bau kentut nan murahan para artis dan politisi gadungan serta bujuk rayu iklan-iklan kartel makanan sampah lainnya.


Pada akhirnya, hemat saya, komunitas literasi bukan hanya soal membaca, melainkan cara dan gaya hidup. Ia mengajarkan bahwa kebudayaan tidak selalu lahir dari gedung megah atau kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang diulang dengan penuh kesadaran: dari halaman ke halaman, dari obrolan ke obrolan, dari ruang publik ke ruang domestik, dan dari sanalah kebudayaan serta peradaban kita akan merecup dan merekah. Sekian. 


Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama 😄
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 05 Feb 2026
Diperbarui: 27 Mar 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. © 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (1)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Liora Eowyn
Liora Eowyn
12 Mar 2026, 15:21
Menurut saya buku memang seharusnya dan baiknya ada sebagai penghias utama rumah ya, setidaknya obat kejenuhan dan bisa juga jadi media healing bagi para ibu rumah tangga yang waktunya banyak dihabiskan dirumah, saya juga merasa sebagai ibu rumah tangga dengan adanya mini Library dirumah akan menyelamatkan serta meningkatkan kualitas generasi muda kita kedepannya, sebenarnya agak miris juga melihat banyaknya kurang kesadaran kita sebagai ibu rumah tangga saat ini mengambil jalan pintas dengan memberikan gadget sejak dini guna hanya untuk anak-anak enteng bermain tidak menggangu pekerjaan rumah tangga kita, terlihat sepele tapi sangat merusak pola fikir dan perkembangan otak, makanya sekarang banyak sekali ditemukan kasus balita 3 tahun keatas speach delay, karena kurangnya komunikasi di kehidupan nyata, kebanyakan dikasih gadget, nonton TV, bahkan menumpuk mainan pun akan rentan jadi penyebab lambat berbicara, padahal dimasa golden ege nya mereka seharusnya mendapatkan stimulasi-stimulasi terbaik, seperti mengenalkan mereka buku, membacakan dongeng, bermain stimulasi antara ibu dan anak dengan buku stimulasi coding for kids, dan banyak sekali buku-buku kreatif tentang ibu dan anak yang bisa kita jadikan bahan pengenalan dan kecintaan mereka terhadap buku sejak dini.
0
Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
12 Mar 2026, 21:10
Iya, betul itu. Setidaknya ini jadi upaya literat yang cukup dini dan dasar serta berkelanjutan.
0