Di hari-hari terakhir keliling Jogja—yang sebetulnya bukan kali pertama saya datang ke sini—saya dan teman seperjalanan kian mendapati pelbagai komunitas literasi yang variatif. Bagi saya, keberagaman ini bukan sekadar penanda geliat literasi, tetapi gejala kebudayaan yang merekah. Manfaatnya cukup banyak saya kira, pembaca akan memiliki sejumlah pilihan suasana: yang nuansanya santai dengan pepohonan rindang ada; yang sedang juga ada; dan yang agak mewah juga ada. Keanekaragaman ini, tentu bukan semata perihal estetika belaka, melainkan bagaimana ruang baca menyesuikan diri dengan habitus sosial pembacanya.
Saya teringat dengan Pierre Bourdieu. Ia pernah menyampaikan bahwa selera—termasuk selera atas ruang—tidak pernah netral. Ia dibentuk oleh latar kelas, pengalaman, dan modal kultural. Olehnya, ketika wahana literasi hadir dalam berbagai kriteria, pembaca dengan latar belakang tertentu tidak akan merasa canggung untuk bergabung. Semisal, yang terbiasa lesehan di bawah rindangnya pohon tidak dipaksa masuk ke ruangan yang membuatnya kurang nyaman; sebaliknya, mereka yang akrab dengan interior rapi dan sunyi juga dapat menemukan rumahnya sendiri.
Bukan hanya itu, aneka suasana dan nuansa bisa menjembatani orang-orang yang sejauh ini terbilang jarang menikmati suasana mewah lantaran satu dan lain hal. Artinya, dengan adanya varian ini, mereka dapat mengakses dengan gratis tanpa risau dengan isi dompet dan seterusnya. Ya, demokratisasi akses, kira-kira begitu. Tapi ini bukan demokratisasi prosedural loh ya,—bukan soal siapa pilih siapa—melainkan kesetaraan dan penyamarataan peluang untuk mengalami sesuatu secara kultural. Saya kira tuan dan puan sudah cukup tahu akan hal ini.
Ruang Jeda
Baik, secara antropologis, ruang-ruang baca ini juga dapat dipahami sebagai third place, meminjam istilah Ray Oldenburg: ruang antara rumah dan tempat kerja yang menjadi titik di mana orang berjumpa tanpa beban peran formal. Di Jogja, setidaknya berdasarkan pengamatan sekilas, komunitas buku yang menjelma warung gagasan, pendopo modern, atau surau intelektual—yang mana orang datang bukan untuk unjuk kepandaiaan tetapi berbagi—merupakan bagian dari third place itu. Dan hal ini patut dikembangkan serta ditiru di berbagai kota lain tentunya.
Buku, pada ranah ini, seolah hadir sebagai medium bagi relasi sosial di setiap sudut keseharian, dan menjadi denyut nadi kebudayaan serta mendetak-jantungi peradaban. Ia seakan menghadirkan pengalaman lintas kelas, lintas kebiasaan, bahkan lintas simbol sosial kemasyarakatan. Dalam istilah Clifford Geertz itu menarik: buku menjadi bagian dari webs of meaning—jejaring makna yang ditenun-sulam oleh manusia untuk memahami dirinya sendiri. mind blowing, bukan?
Sekaitan dengan itu, Jogja dengan sejarah panjang sebagai kota pelajar dan kota budaya, menyediakan lahan subur bagi berkecambahnya geliat ini. Seperti toko buku swa-kelola, rumah baca, festival literasi, hingga kafe-kafe yang menyediakan diskusi dan ruang temu bagi pegiat literasi dari berbagai lintas disiplin. Semuanya membentuk apa yang biasa kita sebut sebagai ekosistem literasi. Bukan ekosistem yang seragam, tapi beragam; saling berpiling satu sama lain, terkadang tumpang-tindih, kadang berisik, dan kadang juga sunyi. Tapi justru dalam ‘ketidakteraturan’ serta keanekaragaman itulah kebudayaan akan lebih hidup nan bermakna.
Literasi sebagai Gaya Hidup
Terang yang telah terpantik ini, sekiranya tidak berhenti di cafeteria, toko buku, serta komunitas-komunitas literasi lainnya, tetapi juga merambah hingga ke rumah tangga. Sebab membaca yang nampak di ruang publik saja, namun mati di ranah domestik akan rapuh nan ringkih. Ia akan bergantung pada agenda, acara, momentum, serta festival; bukan pada kebiasaan dan keseharian, kendati untuk penggalakan di masa transisi ke Indonesia yang lebih literat ini penting disemarakkan dan juga diramaikan.
Selain itu, menjadikan buku sebagai bagian dari rumah tangga tidak lain adalah menanamkan etos berpikir dalam kehidupan sehari-hari. Buku, pada jantung pembahasan ini, menjadi batu penyangga kehidupan rumah tangga, dan kalau memungkinkan menjadi “penghias” ruang tamu; menggantikan sendok, piring, rice cooker dan persolen serta tas-tas atau sepatu sebagaimana marak terlihat di sebagian besar rumah-rumah penduduk Negeri ini. Artinya, kehadirannya tidak sebagai ornamen mati melainkan penanda nilai. Ruang tamu dengan buku seolah simbol bahwa dialog, pertanyaan, dan pencarian makna hidup dihormati di rumah itu. Kurang lebih demikian.
Segendang sepenarian dengan itu, dalam pandangan filsafat budaya, rumah bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga ruang pembentukan dan pemahatan kepribadian. Hannah Arendt pernah menyinggung ini. Ia menekankan pentingnya ruang privat sebagai fondasi bagi ruang publik yang sehat. Maka rumah tangga yang karib dengan buku, sebetulnya, sedang mempersiapkan warga negara yang lebih reflektif, adaptif, dan kreatif, serta lebih tahan terhadap ketidakpastian hidup nantinya. Dan tentu, sedikit kebal oleh gosip bau kentut nan murahan para artis dan politisi gadungan serta bujuk rayu iklan-iklan kartel makanan sampah lainnya.
Pada akhirnya, hemat saya, komunitas literasi bukan hanya soal membaca, melainkan cara dan gaya hidup. Ia mengajarkan bahwa kebudayaan tidak selalu lahir dari gedung megah atau kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang diulang dengan penuh kesadaran: dari halaman ke halaman, dari obrolan ke obrolan, dari ruang publik ke ruang domestik, dan dari sanalah kebudayaan serta peradaban kita akan merecup dan merekah. Sekian.
Komentar (1)