π Artikel Terbaru dari Burhanuddin Elbusiry
Peradaban tidak dibangun dari gedung dan regulasi semata, namun dari kebiasaan, nilai dan cara berpikir yang hidup dalam masyarakat. Dan inilah sebetulnya perangkat lunak dari demokrasi dan pendidikan yang mendetak-jantungi peradaban manusia di seluruh penjuru mayapada sejauh ini.
Strategi busuk industri global tidak lain adalah memutus manusia dari alam dan memanipulasi agar tercipta ketergantungan pada pasar. Jadi, alam yang sejatinya telah menyediakan banyak hal secara gratis melalui sistem swa-kelolanya, harus disingkirkan. Inilah mengapa strategi kapitalis kelas kakap, adalah mengambil alih lahan terlebih dahulu dari para petani dan masyarakat adat.
Barangkali seni berlibur yang hilang dari diri kita bukanlah soal pergi, tapi bagaimana kita kembali; Kembali ke dalam diri. Lantaran Prambanan dan wisata lain dengan segala keramain dan hiruk-pikuknya, mengajarakan satu hal yang cukup ironis bagi saya: di tengah orang-orang yang mencari jeda, keheningan justru menjadi hal yang paling langka.
Bahasa ini paralel dengan kesusastraan; kebudayaan, agama dan bahkan kemanusiaan. Nah, itu artinya menjaga bahasa Indonesiaβdengan berbicara, menulis dalam bahasa Indonesia yang baikβberarti menjaga negara dengan prinsip menjungjung tinggi bahasa Indonesia: melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa
Menggeluti filsafat dan sains bukanlah meniru orang lain, melainkan melanjutkan apa yang telah digagas oleh leluhur kita sejak ribuan tahun lamanya.
Mari kita rayakan penemuan luar biasa ini dengan mengejar ketertinggalan, menyongsong masa depan, jangan sampai orang lain lebih bersemangat merayakannya dibanding kita sendiri. Lantaran di banyak negara penemuan luar biasa seperti ini akan segera didapuk menjadi ikon nasional, dijadikan mantra kebanggaan, sumber inspirasi pendidikan dan fondasi diplomasi kebudayaan.
Indonesia tidak kekurangan pengetahuan, juga tidak kekurangan pijakan yang bernilai, tetapi tidak adanya kejelasan keberpihakan dan nir-keberanian politik untuk menolak proyek yang merusak meski bernilai triliunan. Olehnya, selama pemerintah terus ambiguβberpura-pura ilmiah tapi takut pada kepentingan, berbicara moral tetapi abai pada keadilanβbencana ini akan terus berulang nampaknya, bukan sebagai takdir, melainkan sebagai kegagalan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain.
Menulis menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan Indonesiaβbaik dalam pendidikan maupun ikhtiar pemanusiaan. Walhasil, menulis bukan hanya soal merancang masa depan, melayani pengetahuan, membela NKRI, atau memajukan bangsa. Lebih dari itu, ia adalah penggagas peradaban. Bahkan, menulis adalah peradaban itu sendiri.
Di hadapan dunia yang sedemikian determinstik dewasa ini, keraguan bukanlah kelemahan, ia adalah tanda bahwa kita masih berpikir, masih manusia, dan masih bersetia pada martabat pencarian makna dan kebenaran yang senantiasa membelum dan tak mengenal kata sudah.