π Artikel Terbaru dari Burhanuddin Elbusiry
Tantangan terbesar kita saat ini, bukan sekadar mempertahankan nilai tapi mengembalikan keseimbangan antara iman, pengetahuan, dan keadilan sosial.
Hari ini, imajinasi kita seperti tercerabut dari tanah tempat seharusnya ia berpijak. Ia melayang di ruang yang maya kuasa dipenuhi gambar-gambar yang ditengarai menarik, tetap miskin kedalaman makna dan nir-visi. Yang hadir dalam benak bukan lagi tokoh nyata dengan kisah dan perjuangan, melainkan representasi visual yang tak jelas arah dan tujuannya.
Mungkin di tengah hiruk-pikuk zaman ini, yang paling revolusioner justru adalah belajar βdiamβ; yang paling gigantis adalah mengambil jarak; yang paling radikal adalah belajar mengalami; dan yang paling filosofis adalah kembali menyusur labirin-labirin dan ruang hening di dalam diri, tempat kita bertemu dengan eksistensi diri tanpa perantara dan ilusi.
Selera musik satu komunitas menentukan dan menandakan kualitasnya. Musik, bukanlah selera belaka. Ia adalah kemudi kebudayaan, pemahat-bentukan kepribadian, dan upaya penyucian moral-spiritual kemasyarakatan.
Selama ukuran kemajuan kita masih ditentukan oleh mahalnya proyek dan besarnya ambisi yang tak jelas, selama itu pula kita akan terjebak dengan pembangunan dunia luar tetapi pelan-pelan menggerus semesta batin pedalaman dan kedirian, serta merancang cara paling halus nan gigantis untuk membunuh kemanusiaan kita.
Komunitas literasi bukan hanya soal membaca, melainkan cara dan gaya hidup. Ia mengajarkan bahwa kebudayaan tidak selalu lahir dari gedung megah atau kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang diulang dengan penuh kesadaran: dari halaman ke halaman, dari obrolan ke obrolan, dari ruang publik ke ruang domestik, dan dari sanalah kebudayaan serta peradaban kita akan merecup dan merekah.
Peradaban tidak dibangun dari gedung dan regulasi semata, namun dari kebiasaan, nilai dan cara berpikir yang hidup dalam masyarakat. Dan inilah sebetulnya perangkat lunak dari demokrasi dan pendidikan yang mendetak-jantungi peradaban manusia di seluruh penjuru mayapada sejauh ini.
Strategi busuk industri global tidak lain adalah memutus manusia dari alam dan memanipulasi agar tercipta ketergantungan pada pasar. Jadi, alam yang sejatinya telah menyediakan banyak hal secara gratis melalui sistem swa-kelolanya, harus disingkirkan. Inilah mengapa strategi kapitalis kelas kakap, adalah mengambil alih lahan terlebih dahulu dari para petani dan masyarakat adat.
Barangkali seni berlibur yang hilang dari diri kita bukanlah soal pergi, tapi bagaimana kita kembali; Kembali ke dalam diri. Lantaran Prambanan dan wisata lain dengan segala keramain dan hiruk-pikuknya, mengajarakan satu hal yang cukup ironis bagi saya: di tengah orang-orang yang mencari jeda, keheningan justru menjadi hal yang paling langka.
Bahasa ini paralel dengan kesusastraan; kebudayaan, agama dan bahkan kemanusiaan. Nah, itu artinya menjaga bahasa Indonesiaβdengan berbicara, menulis dalam bahasa Indonesia yang baikβberarti menjaga negara dengan prinsip menjungjung tinggi bahasa Indonesia: melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa
Menggeluti filsafat dan sains bukanlah meniru orang lain, melainkan melanjutkan apa yang telah digagas oleh leluhur kita sejak ribuan tahun lamanya.
Mari kita rayakan penemuan luar biasa ini dengan mengejar ketertinggalan, menyongsong masa depan, jangan sampai orang lain lebih bersemangat merayakannya dibanding kita sendiri. Lantaran di banyak negara penemuan luar biasa seperti ini akan segera didapuk menjadi ikon nasional, dijadikan mantra kebanggaan, sumber inspirasi pendidikan dan fondasi diplomasi kebudayaan.
Indonesia tidak kekurangan pengetahuan, juga tidak kekurangan pijakan yang bernilai, tetapi tidak adanya kejelasan keberpihakan dan nir-keberanian politik untuk menolak proyek yang merusak meski bernilai triliunan. Olehnya, selama pemerintah terus ambiguβberpura-pura ilmiah tapi takut pada kepentingan, berbicara moral tetapi abai pada keadilanβbencana ini akan terus berulang nampaknya, bukan sebagai takdir, melainkan sebagai kegagalan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain.
Menulis menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan Indonesiaβbaik dalam pendidikan maupun ikhtiar pemanusiaan. Walhasil, menulis bukan hanya soal merancang masa depan, melayani pengetahuan, membela NKRI, atau memajukan bangsa. Lebih dari itu, ia adalah penggagas peradaban. Bahkan, menulis adalah peradaban itu sendiri.
Di hadapan dunia yang sedemikian determinstik dewasa ini, keraguan bukanlah kelemahan, ia adalah tanda bahwa kita masih berpikir, masih manusia, dan masih bersetia pada martabat pencarian makna dan kebenaran yang senantiasa membelum dan tak mengenal kata sudah.