Tidak ada krisis minat filsafat dan sains di Indonesia, yang ada adalah krisis narasi tentang siapa kita dan dari mana arkeologi kecerdasan kita bermula. Indonesia saat ini, seolah berada di persimpangan: meninggalkan yang lama sebelum menguasai yang baru. Kita ingin berderap menuju kemajuan tetapi tercerabut dari akar kedirian kita sendiri; kita ingin maju tetapi ragu pada kemampuan intelektual kita sendiri.
Dalam sistuasi seperti ini, filsafat dan sains tampil seolah hal yang jauh dari tanah kita sepenuhnya; jauh dari keseharian kita. Akibatnya, ia nampak sebagai sesuatu yang asing, dingin, dan terputus dari identitas. Padahal, jejak awal dari cara berpikir ilmiah justru terpendam di tanah yang kita pijak. Mendetak-jantungi peradaban kita sendiri bahkan ia adalah DNA kita sebagai bangsa.
Konten lengkap tersedia setelah login.
Komentar (0)