Barangkali beberapa di antara kita berkali-kali memastikan sesuatu yang seiring waktu, justru terbukti rapuh nan ringkih. Pun sebaliknya, keraguan yang terus dirawat dengan tanya, pada akhirnya mendapati bukti yang nyata. Di mayapada ini, hampir semua pencapaian prestisius dalam sejarah manusia bermula dari penasaran—dari hasrat untuk membuktikan sesuatu, bukan dari kepastian yang mapan dan beku.
Ironisnya, kita kerap memastikan sesuatu yang belum terbukti. Ini kurang lebih sama dengan menolak sesuatu yang belum kita ketahui. Atau menilai kebenaran hanya dari apa yang tertangkap oleh indera, seolah yang tak kasat mata itu tidak layak didamba. Padahal, seringkali, yang menyentuh dan mengisi ruang batin terdalam kita bukanlah hal-hal material: bukan kekuasaan, kedudukan, kesuksesan spektakuler, atau popularitas, bahkan bukan pula doktrin yang sudah diterima dan diamini secara kolektif; melainkan tanya yang tak kunjung padam, petualangan, pencarian, penasaran, keharuan, keheranan, dan kekaguman yang senantiasa membelum di dalam diri.
Kepastian, pada titik ini, nyaris menjadi sesuatu yang mengerikan. Ia seolah menjelma menjadi mara bahaya yang menguntit dan mengintai kita setiap waktu manakala menutup ruang bagi penalaran. Pada ranah inilah, saya kira, akal kritis menemukan urgensinya. Selain itu, kepastian yang tidak terus-menerus diuji akan condong menjadi dogma; dan pada beberapa aspek ia lebih menyerupai jeratan daripada pegangan.
Lesley Hazleton suatu waktu mengingatkan bahwa keraguan ibarat api yang menempa keimanan. Tanpanya, yang tersisa hanyalah kepastian buta—tempat segala penolakan untuk berpikir dan peniskalaan nilai-nilai kemanusiaan; kubangan kengerian bagi mereka yang menolak dewasa secara intelektual dan spiritual.
Para filsuf sendiri telah jauh-jauh hari mendedahkan bahwa bertanya bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian intelektual. Sokrates, semisal, mewariskan kepada kita semangat ini: membongkar kepastian palsu nan ilusif dengan dialog. Ia tidak menawarkan jawaban final, tetapi ketekunan dan keteguhan untuk menguji ulang asumsi-asumsi yang selama ini diterima tanpa sadar. Artinya, bertanya tidak lain adalah cara untuk menjaga keyakinan agar tidak membeku dan membatu.
Namun, keraguan pada konteks ini, bukanlah penolakan terhadap realitas objektif. Bukan. Sama sekali bukan. Tulisan ini juga tidak untuk mengagungkan relativisme yang cenderung meniadakan kebenaran. Justru sebaliknya, keberadaan realitas objektif adalah fondasi berpikir; kita tetap meyakini adanya kepastian-kepastian aksiomatik—yang tanpanya nalar akan runtuh. Akan tetapi, kepastian semacam itu tidak semestinya membungkam serangkain kritik dan serentetan tanya. Malah ia seharusnya menuntut tanggung jawab intelektual agar tidak disalahgunakan sebagai instrumen pembenaran.
Dalam wilayah keimanan, ketegangan antara kepastian dan keraguan tampak sangat jelas. Al-Qur’an sendiri, contohnya, menghadirkan nama-nama Tuhan yang saling bertentangan. Tuhan disebut Maha Pengasih sekaligus Maha Penghukum; Maha Lembut pada saat yang sama Maha Perkasa; Maha Pengampun juga Maha Pembalas. Seolah-olah tidak ada suatu konsep tunggal yang sepenuhnya pasti dan tertutup. Nama-nama itu hadir dalam keserentakan dan saling berdampingan; tidak disederhankan, tidak diringkus dalam ruang kedap kritik dan tanya.
Namun, belakangan, kontradiksi ini berusaha dijinakkan dengan berbagai argumentasi. Ketegangan dan pertentangan pada nama-nama ini bahkan ditata dan dibakukan agar tampak konsisten dan mudah diajarkan. Salah satu pembelaan yang paling sering kita dapati adalah: “kita tidak boleh menyebutnya kontradiksi lantaran ia belum melalui proses penalaran”. Barangkali itu ada benarnya, meski tetap harus diakui bahwa dalam pertentangan nama-nama itulah kedalaman makna justru beredar dan berpendar yang memisau lalu lamat-lamat meredam resah serta risau.
Selain itu, nama-nama Tuhan ini, seolah memang tidak dimaksudkan untuk memberi kepastian yang menutup penalaran, melainkan untuk menguji asumsi kita tentang Yang Absolut. Kepastian Tuhan, pada episentrum ini, tidak lahir dari peniadaan kontradiksi, melainkan dari kesanggupan kita sebagai manusia untuk hidup di dalamnya. Menggembalakan irama dan proses di rimba ketidakpastian; mendayung di antara harapan dan putus asa hingga manusia dan Tuhan laksana api dan nyalanya; lautan dan gelombangnya. Ia ibarat perjalanan tanpa finalitas, penyusuran labirin-labirin sumur tanpa dasar, sebagaimana yang diungkap Annemarie Schimmel yang membuka kotak pandora Islam: manusia senantiasa berada dalam dua keadaan: perjalanan menuju; dan perjalanan di dalam. Membelum.
Gagasan serupa yang bahkan lebih radikal, dapat kita temukan dalam filsafat Taoisme. Laozi atau Laotse mengawali the Tao Teh Ching dengan pernyataan yang mengguncang seluruh hasrat manusia akan kepastian: the Tao that can be told of, is not the absolute Tao: Tao yang dapat dinamai bukanlah Tao yang sesungguhnya. Begitu sesuatu diberi nama, ia telah kehilangan keutuhannya.
Penamaan, dalam pandangan Taoisme ini, bukanlah pengungkapan kebenaran, melainkan pemotongan realitas. Hal ini kurang lebih sebagaimana Plato tatkala ia menamai alam ide: di satu sisi ia menyibak selubung misteri, tapi di sisi lain ia telah menentukan batas dan tepi. Dalam ranah ini, bahasa membagi sesuatu yang sejatinya mengalir, dan membekukan apa yang pada hakikatnya bergerak.
Dengan memberi nama, manusia seringkali merasa telah memahami. Namun, yang kerap kali terjadi, justru sebaliknya: realitas yang kaya direduksi menjadi konsep yang sempit. Manusia seolah hanya bergulat pada kenyamanan definisi. Taoisme, pada titik ini, meragukan hal seperti ini. Tapi perlu dicatat, ia tidak menolak realitas, melainkan menghalau segala klaim bahwa realitas dapat sepenuhnya dikuasai oleh bahasa dan kategori.
Zhuangzi melanjutkan konsep keraguan ini melalui kisah paradoks yang cukup terkenal: mimpi kupu-kupu. Ia bertanya, apakah ia Zhuangzi yang bermimpi menjadi kupu-kupu, atau kupu-kupu yang sedang bermimpi menjadi Zhuangzi. Pertanyaan ini tentu tidak dimaksudkan untuk dijawab secara logis-argumentatif, tetapi reflektif. Pada jantung persoalan ini, pernyataan di atas seolah membongkar kepastian identitas, kesadaran, dan sudut pandang. Siapakah “aku” yang merasa pasti itu? Dari posisi mana kepastian itu diklaim?
Selain itu, paradoks ini menunjukkan bahwa kepastian seringkali bergantung pada perspektif. Apa yang terasa mutlak dalam satu sudut pandang, runtuh dari sudut pandang lain. Taoisme pada pusat gravitasi persoalan ini, sebetulnya, tidak menawarkan kepastian pengganti, tetapi kewaspadaan: Jangan terburu-buru mengunci kenyataan dengan definisi; jangan tergesa-gesa menyebut sesuatu sebagai final dan selesai.
Pada domain inilah, saya kira, keraguan menemukan legitimasi filosofisnya. Bukan sebagai penyangkalan terhadap kebenaran, tetapi sebagai perlindungan terhadap penyederhanaan. Lantaran ketika kepastian dipaksakan atas sesuatu yang pada dasarnya majemuk, yang berkecambah bukanlah kebijaksanaan, melainkan kekakuan dan kemandekan. Dan kepastian seperti ini, sekali lagi, rentan menjadi alat dominasi—atas nama kebenaran yang acap kali dianggap telah cukup diri.
Segendang sepenarian dengan itu, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa tragedi kemanusiaan kerap dipicu dan dipantik oleh keyakinan berlebih pada dirinya sendiri yang dianggap pasti. Hitler, semisal, dengan kepastian akan keyakinan absolutnya perihal superioritas ras arya menghabisi jutaan manusia. Demikian halnya Amerika Serikat di akhir perang dunia II, setelah melakukan pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki, lalu berdasarkan keputusan politik merancang kekerasan sistematis yang sangat mengerikan di El Savador, Guetamala, dan Nikaragua serta kejadian baru-baru ini, pencaplokan Venezuela dan upaya pengambilalihan Greenland secara paksa. Masih segar pula diingatan kita genosida Rwanda, peristiwa Bosnia-Herzagovina, Rohingya dan konflik-konflik lainnnya.
Belum lagi berbagai kekacauaan di Timur Tengah yang kebanyakan didalangi Amerika dan genosida yang paling menyedihkan lantaran masih berlangsung hingga saat ini: Palestina, kejahatan kemanusiaan yang sedemikian keji abad ini yang dilakukan Israel dan sekutunya, lagi-lagi Amerika.
Pada pusat ketegangan ini, bukan keraguan yang membunuh, melainkan kepastian yang menutup ruang bagi koreksi. Dengan demikian, tatkala ideologi, agama, atau pengetahuan dan segala bentuk pencapaiaan manusia dewasa ini mengklaim dirinya telah mencapai keparipurnaan, pada saat itulah ia mulai kehilangan sisi kemanusiaanya. Memang, dalam beberapa kasus, ilmu dan teknologi, semisal, mempercepat perjalanan sejarah kemanusiaan kita, tetapi tanpa keraguan etis dan reflektif, keduanya akan gagal memandu dan menuntun manusia menuju kebijaksanaan.
Sekalipun demikian, keraguan pada nadi pembahasan ini bukanlah tujuan akhir, melainkan metode untuk sampai pada kesimpulan yang lebih tulus dan jujur. pengakuan pada satu hal tidak seharusnya menganulir-gugurkan kerja nalar. Artinya, ada wilayah rasional yang mampu diakses dan ada wilayah supra-rasional yang berada di luar kapasitas kita sebagai manusia, kira-kira demikian. Keduanya tidak saling menegasikan. Keraguan sebagai metodologi justru menjaga agar keyakinan tidak tergelincir menjadi fanatisme buta.
Lalu dari mana kita seharusnya memulai? Nampaknya kita mesti mengawalinya dari kesadaran akan keterbatasan diri sembari memberi ruang kesadaran bagi tumbuhnya kemungkinan-kemungkinan lain, the black swan; dan dari keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua hal dapat dibekuk dalam kepastian agar dada dan kepala kita menemukan arah serta secercah cerlang pencerahan. Atau dalam bahasa yang lain, kepastian sejati bukanlah yang menutup pintu tanya, melainkan yang sanggup bertahan terus-menerus dalam tempaan keraguan yang spiritual-filosofis, analitis-epistemik, empiris-saintifik serta sosiologis-humanistik.
Apa sebab? karena salah satu cara paling efektif menyembunyikan kebohongan adalah dengan mengemasnya sebagai kepastian dan mengulanginya terus-menerus hingga ia diterima sebagai kebenaran kolektif. Terakhir, hemat saya, di hadapan dunia yang sedemikian determinstik dewasa ini, keraguan bukanlah kelemahan, ia adalah tanda bahwa kita masih berpikir, masih manusia, dan masih bersetia pada martabat pencarian makna dan kebenaran yang senantiasa membelum dan tak mengenal kata sudah.
Komentar (1)