Logo
Kesalahan Terbesar Sistem Ekonomi Dunia

Kesalahan Terbesar Sistem Ekonomi Dunia

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
📝 Seputar Ekonomi
👁️ 607 • ❤️ 4 • 💬 0
⏱️ 5 menit
📅 31 Jan 2026
Ringkasan:
Strategi busuk industri global tidak lain adalah memutus manusia dari alam dan memanipulasi agar tercipta ketergantungan pada pasar. Jadi, alam yang sejatinya telah menyediakan banyak hal secara gratis melalui sistem swa-kelolanya, harus disingkirkan. Inilah mengapa strategi kapitalis kelas kakap, adalah mengambil alih lahan terlebih dahulu dari para petani dan masyarakat adat.
Aa AA

 

Tidak ada sistem yang begitu percaya diri menyebut dirinya rasional, sembari dengan tenang merusak syarat-syarat paling dasar dari keberadaannya selain sistem ekonomi modern. Ia membincang perihal efisiensi, pertumbuhan, kemajuan, serta hal lainnya, namun pada saat yang sama menggerogoti pemungkin paling gigantis dari kehadirannya sejak awal. Di sinilah paradoks ekonomi bermula, bukan sebagai bawaan tapi kesengajaan.

 

Para ekonom sendiri kerap memulai pembahasannya dari angka, grafik, indikator makro, juga membahas inflasi, produk domestik bruto, dan istilah aneh-aneh lainnya. Pokoknya, tingkat konsumsi dibincang seolah ekonomi adalah mesin tertutup yang kedap pengaruh. Seringkali begitu. Padahal, sebelum semua pembahasan itu, ada lapisan primordial nan esensial yang jarang disentuh: meta-ekonomi. Dan meta-ekonomi itu bukan pasar, bukan uang, melainkan alam dan manusia. inilah yang sebetulnya memungkinkan keberlangsungan sistem ekonomi.

 

Ironisnya, justru dua hal inilah yang paling banyak ditumbalkan oleh sistem pasar yang hari ini berkembang sedemikian agresif dan hampir-hampir nir-kepedulian itu. Alam dibabat hingga titik kritis, manusia digesek-digosok bahkan digosongkan hingga kehilangan martabatnya sebagai manusia. Keduanya diperlakukan bukan sebagai fondasi, melainkan komoditas belaka. Maka tidak mengherankan jika sistem ini tampak terus tumbuh di permukaan, namun rapuh nan ringkih di kedalaman.

Iklan

 

Meta-Ekonomi yang Dihancurkan

 

Jika alam dan manusia adalah modal paling dasar dari ekonomi, maka seharusnya keduanya dijaga dengan kehati-hatian dan penuh perhatian. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Sistem pasar yang dikuasai oleh oligark, kartel, dan industri global—sering kali berkelindan dan berselingkuh ria dengan kekuasaan melalui sistem B to G—secara sadar dan sengaja merusak basis meta-ekonominya sendiri di satu sisi dan kehidupan di sisi lain.

 

Alam dieksploitasi atas nama efisiensi dan daya saing. Hutan dibabat habis, air diprivatisasi, dan tanah dinilai semata secara ekonomis. Sementara itu, manusia direduksi menjadi angka produktivitas, jam kerja, dan upah belaka. Tatkala sudah tidak efisien, ia disingkirkan. Ketika tidak lagi menguntungkan, ia dicampakkan.

 

Dalam kondisi seperti ini, sistem ekonomi tidak lagi berfungsi sebagai pengatur kehidupan, melainkan sebagai mesin akumulasi yang hilang api, melangkah ke arah hilang arti. Ia hidup dari penghisapan berkelanjutan dan kejahatan struktural, serta runtuh manakala penghisapan dan kejahatan itu dihentikan. Di titik ini, sistem ekonomi modern tampak seperti organisme yang hanya bisa bertahan dengan cara melukai tubuhnya sendiri. Memakan ibu dan bapaknya sendiri: manusia dan alam.

 

Paradoksnya, semua ini tetap dianggap rasional. Padahal, di mayapada ini, rasionalitas macam apa yang menghancurkan syarat keberlangsungan hidupnya sendiri, kisanak? Hmm.

 

Pertumbuhan dan Pengangguran

 

Tujuan dari sistem pasar seringkali terdengar mulia dan berwibawa: menciptakan lapangan kerja. Semakin banyak perusahaan berdiri, semakin banyak industri dibuka, maka semakin luas kesempatan kerja. Narasi ini terus diulang, dikampanyekan bahkan dipercaya sebagai hukum alam ekonomi yang niscaya. Namun kenyataan menunjuk arah lain, yang dampaknya berimbas ke sekian generasi; yang deritanya menghantui sampai ke mimpi milenial dan genzi.

 

Ironis, memang, semakin besar skala industri, semakin canggih teknologi, semakin agresif otomatisasi, yang muncul justru pengangguran struktural yang dimassifikasi. teknologi menggantikan manusia dengan merapal efisiensi sebagai mantra suci. Pertumbuhan dicapai, tetapi tanpa penyerapan tenaga kerja yang sebanding. Sistem ini bukannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melainkan memproduksi surplus pengangguran—orang-orang yang tidak lagi dibutuhkan oleh pasar dipinggirkan dan dibuang ke selokan, ke kolong jembatan dan diteror agar tetap miskin dan terbelakang.

 

Anehnya, kesalahan ini selalu dibebankan pada individu, pada masyarakat kecil. Mereka dituduh tidak adaptif, tidak kompeten, tidak mau belajar. Padahal, persoalannya bukan pada kualitas manusia, melainkan pada desain ekonomi yang memang dirancang mengalienasi manusia dan mengeksploitasi (ke)manusia(an) serta pemiskinan demi ajang kampanye di pemilu-pemilu mendatang oleh para politikus jahannam dan firaun-firaun masa kini. Bangsat, memang.

 

Konsumsi sebagai Ukuran Kesejahteraan

 

Paradoks berikutnya muncul dari cara gerombolan ini mendefinisikan kesejahteraan. Para ekonom kerap mengukurnya dari besarnya konsumsi tahunan. Siapa yang mengonsumsi lebih banyak dianggap lebih sejahtera dan yang mengonsumsi sedikit dicurigai sebagai kurang mampu. Dan ukuran ini diterima begitu saja, seolah tidak ada yang aneh dan janggal.

 

Namun, jika sejak awal kita mengakui bahwa alam adalah modal, maka logika ini runtuh dengan sendirinya. Karena, bukankah modal tidak seharusnya dihabiskan, melainkan dijaga!? Modal kehidupan—alam—bukan sesuatu yang boleh dikonsumsi seenaknya, karena banyak dari hal ini bukan energi yang bisa diperbaharui. Sekali ambil, habis.

 

Dengan pola pikir ini, justru mereka yang mengonsumsi paling sedikitlah yang paling rasional. Mereka-mereka inilah yang tidak mempercepat kerusakan alam, tidak membebani sistem, dan tidak sepenuhnya menggantungkan hidup pada pasar tapi merangkainya dengan kreativitas. Namun sistem ekonomi raksasa tidak bisa hidup dari penghematan. Ia membutuhkan konsumsi terus-menerus agar roda akumulasi tetap berputar dan berkelanjutan.

 

Karena itu, strategi busuk industri global tidak lain adalah memutus manusia dari alam dan memanipulasi agar tercipta ketergantungan pada pasar. Jadi, alam yang sejatinya telah menyediakan banyak hal secara gratis melalui sistem swa-kelolanya, harus disingkirkan. Inilah mengapa strategi kapitalis kelas kakap, adalah mengambil alih lahan terlebih dahulu dari para petani dan masyarakat adat. Dan, saya kira tuan dan puan sudah tahu penguasa lahan di dunia saat ini. ya, betul sekali: Bill Gates dan korporasi siluman lainnya. Dan, di negeri ini, dengan  motif busuk yang sama, dikuasai oleh segelintir pejabat dan pebisnis tak tahu diri.

 

Dengan demikian, strategi sekawanan kartel-kartel racun ini, kurang lebih begini pada kasus tanah: lahan diambil alih dan menyisakan beberaapa petak saja bagi segelintir petani. Sejurus itu, benih kemudian dipatenkan dan diseragamkan untuk membunuh keanekaragaman hayati, lalu kode genetiknya diubah menjadi transgenik yang membuatnya hanya bisa hidup dan berproduksi dari pestisida dan pupuk imitasi. Dan pada gilirannya, terjadilah ketergantungan dari para petani kepada kapitalis global serta hasil dari tetumbuhan itu nantinya tidak betul-betul murni lagi. Demikian seterusnya dengan pola yang sama pada sendi kehidupan lainnya.  

 

Bukan hanya itu, modal dikonsentrasikan pada segelintir pihak, alat produksi dimonopoli, dan imbasnya pilihan hidup bagi ranah lain dibatasi: jadi buruh yang manutan atau tersingkir dari kehidupan. Inilah cara para raksasa bisnis, para kapitalis kelas kakap, oligark, serta gurita kartel mempertahankan dominasinya—bukan hanya pada domain ekonomi, tetapi seluruh sendi kehidupan di mayapada ini kalau memungkinkan. Inilah ambisi mereka yang berangkat dari keserakahan yang tak berkesudahan itu.  

 

Tujuannya? Sekali lagi dan tidak salah lagi, penghilangan keterkaitan manusia pada alam, dan membuat manusia semakin kecanduan pada pasar. Lantaran hanya dengan cara itulah sistem kapitalisme global ini bisa berjalan, tentu juga dengan membunuh ekonomi kreatif lokal. Apakah tulisan ini dalam rangka menolak pasar sepenuhnya dan kembali ke zaman batu? Nanti kita akan singgung lebih detail di tulisan-tulisan selanjutnya. 


Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama 😄
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 31 Jan 2026
Diperbarui: 27 Mar 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. © 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!