Logo
Menulis itu Tidak Penting?

Menulis itu Tidak Penting?

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
📝 Wajah Pendidikan
👁️ 104 • ❤️ 3 • 💬 2
⏱️ 1 menit
📅 25 Jan 2026
Ringkasan:
Menulis menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan Indonesia—baik dalam pendidikan maupun ikhtiar pemanusiaan. Walhasil, menulis bukan hanya soal merancang masa depan, melayani pengetahuan, membela NKRI, atau memajukan bangsa. Lebih dari itu, ia adalah penggagas peradaban. Bahkan, menulis adalah peradaban itu sendiri.

Ada ujar-ujar yang kerap kita dengar bahwa: “Menulis itu tradisi kuno, orang-orang lebih butuh sesuatu yang memberikan manfaat praktis, ketimbang sekadar tulisan, terlebih dengan hadirnya teknologi yang kian mutakhir.”

Sederhana saja untuk membantah pernyataan di atas. Begini: apakah dengan adanya lampu bohlam, lantas lentera dan lilin tidak lagi dibutuhkan? Tentu tidak, bukan. Bahkan, sering kali ia justru menjadi penerang paling dicari ketika kerusakan tak terdeteksi terjadi pada arus listrik di gardu induk. Artinya, kemajuan tidak selalu meniadakan yang lama; ia justru memperlihatkan bahwa sesuatu yang dianggap usang kerap menjadi penopang dan benteng terakhir tatkala terjadi kekacauan.

Konten lengkap tersedia setelah login.

🔒
Konten Terkunci
Lanjut baca? Login dahulu
Gratis. Dengan login Anda menghargai upaya dan memberdayakan penulis serta mendukung komunitas.
Baca full artikel tanpa blur
💬 Bisa like & komentar
📌 Lanjut baca tersimpan otomatis
Dengan masuk, Anda setuju Ketentuan & Kebijakan Privasi.
Iklan
Google Ads Improve
Google AdSense
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama 😄
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 25 Jan 2026
Diperbarui: 03 Feb 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. © 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (2)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!