π Artikel Terbaru dari @Suharsono
Tradisi Alexandria dapat dipandang sebagai salah satu tahap penting dalam sejarah linguistik. Sebuah momen ketika bahasa mulai dipelajari melalui metode analisis yang lebih teratur dan empiris.
Tanpa listrik, satelit, atau jaringan komunikasi, sebagian besar teknologi digital menjadi tidak berguna. Server tidak bisa bekerja. Sistem keuangan berhenti. Infrastruktur logistik runtuh. Dalam situasi seperti ini, nilai tertinggi tidak lagi berada pada perusahaan teknologi atau pasar saham. Nilai tertinggi berada pada tanah yang bisa ditanami.
Bahasa bukan hanya sekadar sistem tanda. Bahasa adalah medan tempat manusia bernegosiasi dengan kebenaran.
PaαΉini bukan hanya sebagai tokoh dalam tradisi gramatika India, melainkan sebagai salah satu pemikir yang memperlakukan bahasa sebagai objek analisis ilmiah yang sistematis.
Pergeseran dari perpustakaan ke rumah baca pada akhirnya adalah pergeseran ideologis: dari pengetahuan sebagai arsip ke pengetahuan sebagai pengalaman; dari institusi ke komunitas; dari pengelolaan ke pengasuhan.
Kalau pun dunia pada akhirnya tidak jadi hancur, linimasa pasti akan menemukan kiamat versi baru. Selalu ada ancaman yang bisa diperbesar, selalu ada konflik yang bisa disulap menjadi trailer film apokaliptik. Dan kita, seperti biasa, akan siap panik lagi dengan penuh semangat. Karena di era ini, ketakutan bukan hanya reaksi, melainkan juga gaya hidup digital yang paling mudah diakses.
Kedaulatan pangan adalah upaya membebaskan tubuh dari penaklukan senyap dan membebaskan kesadaran dari hegemoni yang menyamar sebagai kemajuan. Tanpa itu, suatu bangsa mungkin tetap hidup, tetapi hidup dalam kondisi yang dikendalikan; sehat secukupnya untuk bekerja, cukup makan untuk bertahan, dan cukup lupa untuk tidak melawan.
Pendidikan tidak seharusnya sibuk mencetak manusia sesuai pesanan sistem, melainkan harus kembali pada tugas asasinya: menuntun manusia agar merdeka sebagai manusia. Jika tidak, maka pendidikan kita bukan sedang mendidik, melainkan sedang memproduksi generasi yang rapi secara administratif, tetapi kosong secara kemanusiaan.