Logo
Kecerdasan Artifisial

Kecerdasan Artifisial

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
📝 Isu-isu Teknologi
👁️ 44 • ❤️ 0 • 💬 0
⏱️ 1 menit
📅 10 Sep 2026
Ringkasan:
Bagaimana pun AI tetaplah AI. Ibarat makanan, AI sebetulnya terlalu manis. Jadinya, alih-alih menyehatkan, ia malah memicu dan memacu pertumbuhan penyakit.
Aa AA

 

Ada sesuatu yang menurut saya agak lucu perihal kecerdasan artifisial. Di satu sisi, kita dibuat cemas oleh bayangan mesin yang kelak terlampau cerdas, mengambil alih pekerjaan, bahkan—dalam skenario tertentu—boleh dibilang mengendali-kuasai manusia itu sendiri. Di sisi lain, kita justru sibuk meyakinkan diri bahwa AI adalah jawaban atas hampir segala persoalan yang kita hadapi.

 

Penyakit, semisal, ditengarai akan mampu diretas sepenuhnya; penemuan pun akan mengalami lompatan yang siginifikan; kreativitas kian melejit; birokrasi tidak akan lagi ruwet seperti sekarang; pendidikan akan semakin mudah; dan entah sederet janji manis politis nan cuanis apa lagi.


Ya, seolah-olah kita baru saja menemukan juru selamat, hanya saja kali ini ia tidak turun dari langit, melainkan lahir dari rahim teknologi bernama algoritma yang dibidangi oleh para penginjil teknologi. Hehe.

Iklan

 

Lebih kurang demikian yang akan kita bahas beberapa menit ke depan dalam esai singkat ini. Anggap saja hal di atas sebagai abstrak. Baik, sekadar disklaimer, tulisan ini sebenarnya adalah salah satu terjemahan dari teks reading IELTS yang belakangan sering saya baca lalu saya bubuhi beberapa komentar saat senggang. Kalau tidak salah, ini yang kelima kalau bukan esai keenam.

 

Jujur saja, di antara banyak topik, kecerdasan artifisial ini adalah salah satu yang paling menarik perhatian saya. Bukan semata-mata karena kecanggihannya, melainkan cara kita memandangnya. Jadi, kita seolah terombang-ambing di antara adanya ketakutan yang berlebihan, dan optimisme yang tak kalah berlebihannya. Hihi.

 

Dan, kebanyakan negara Barat, sebenarnya, juga mendayung di antara lautan harapan dan kekhawatiran akan kecerdasan artifisial yang menggaung di mana-mana ini.


Belum lagi pelbagai berita yang disiar-wartakan dan disensasionalisasi sedemikian rupa bagaimana AI akan mampu mengobati penyakit, mengakselerasi penemuan, meningkatkan kreativitas manusia, bahkan mengubah hampir seluruh lini kehidupan juga tak kalah hebohnya seperti yang kita sebut di awal.

 

Koran-koran pun tak kurang menggemparkannya dengan merilis warta bertajuk masa depan manusia yang telah tiba lantaran keterhubungan manusia dengan AI semakin intens. Ya, sekilas, AI terbilang berhasil meyakinkan banyak pihak akan berbagai peluang yang menjanjikan.

 

Namun, gegap gempita ini juga memicu satu gejala yang mahakronis tentunya, yakni AI solutionism atau solusionisme AI: Anggapan bahwa AI dan algoritma adalah solusi dari hampir semua permasalahan kemanusiaan. Mirip-mirip ideologi lah, kira-kira.

 

Ini tentu bukan perkara kecil. Lantaran, alih-alih mendukung perkembangan AI ke arah yang lebih baik, pola pikir seperti ini justru berbahaya karena mengabaikan prinsip keamanan AI di satu sisi dan memicu serta memacu ekspektasi yang tidak realistis bagi kemanusiaan di sisi lain.

 

Coba bayangkan, dalam waktu relatif singkat AI bahkan telah menggait para pemangku kebijakan di berbagai belahan dunia untuk berinvestasi di lahan basah ini—meyakinkan mereka akan kedigdayaan AI.


Saking menggiurkannya, para penganjur teknologi atau para kaum militan AI—saya suka istilah dalam esai ini—technology evangelists alias “penginjil teknologi”, berhasil membalikkan arah pendulum dari gagasan distopis bahwa AI akan menghancurkan kemanusiaan menuju gagasan utopis yang percaya bahwa AI adalah algorithmic saviour atau juru selamat algoritmik yang telah tiba di era kita saat ini.

 

Tak sampai di situ saja, kita bahkan disuguhkan tontonan yang cukup menggelitik, ketika pemerintah berlomba-lomba menyatakan dukungannya terhadap pengembangan AI skala nasional dan saling mendominasi satu sama lain dalam sektor pembelajaran berbasis mesin yang tengah naik daun ini.

 

Dan saat ini, salah satu varietas paling menjanjikan dari teknologi AI adalah neural network atau jaringan saraf tiruan yang mencontoh cara kerja otak manusia. Ya, lebih kurang seperti bentuk “semi-otak” manusia yang tengah menjadi perbincangan hangat dan membuat keberterimaan AI semakin sulit disangkal, kawan-kawan.

 

Tetapi, hal yang tidak banyak disadari oleh para pemangku kebijakan adalah bahwa menambahkan neural network ke dalam sistem AI tidak secara otomatis menjadikannya jalan keluar bagi seluruh permasalahan. AI yang dioptimalkan dengan jaringan saraf tiruan pun tidak serta-merta akan beropresi secara adil, transparan, dan bebas bias.

 

Apa sebab? Lantaran kecanggihan algoritma tidak menghapus persoalan yang ada pada data yang digunakan untuk melatihnya. Ya, Garbage in, garbage out, kira-kira begitu. Jadi, tatkala data yang dimasukkan penuh dengan bias, algoritma yang sangat canggih sekalipun akan menghasilkan keputusan yang tak kalah biasnya.

 

Jangan lupa, AI ini tidak seperti cermin yang memantulkan realitas secara netral. Sekali lagi, ia sebetulnya dibangun dari data, dan data sendiri adalah produk dari masyarakat. Jika masyarakat memiliki ketimpangan, diskriminasi, atau bias tertentu, sangat mungkin sistem AI turut mewarisinya.


Bahkan yang tak kalah mengkhawatirkannya, bias itu bisa memperoleh legitimasi tertentu lantaran ia hadir dalam bentuk baru dengan kerangka yang lebih sistemik, terukur, kalkulatif, dan tentu saja atas rekomendasi algoritmik.

 

Olehnya, keberterimaannya akan semakin sulit disangkal, karena hal itu diproduksi oleh mesin, dan sangat mungkin keputusan itu dianggap objektif sepenuhnya padahal belum tentu. Itulah mengapa tidak jarang yang berkomentar bahwa yang dibutuhkan AI bukan ahli algoritma, atau ahli komputer lainnnya, tetapi ahli filsafat, bangsawan pikir. Nah!

 

Selain itu, AI sebenarnya membutuhkan data dalam jumlah besar untuk dapat bekerja dengan baik. Sementara sebagian besar data masih tersimpan secara daring. Pun, data yang telah didigitalisasi tersebar di berbagai departemen dan institusi yang mensyaratkan perizinan khusus untuk dikses.


Dengan demikian, persoalan AI, sebetulnya, bukan semata-mata kecanggihan algoritma, melainkan apakah data tersedia, berkualitas, relevan, aman, dan dapat digunakan.

 

Jadi, kendati para politisi dan para pemangku kebijakan memproklamirkan daya transformatif AI di masa depan, mereka sebenarnya terbilang gagal menyadari kompleksitas penerapan AI di dunia nyata. Padahal ilmuwan-ilmuwan dunia sudah lama angkat bicara tentang ini.

 

Stuart Russell, misalnya, guru besar ilmu komputer di University of California, menyarankan agar kita lebih fokus pada pendekatan yang masuk akal dan realistis: pengaplikasian AI untuk kebutuhan sehari-hari yang benar-benar bermanfaat, daripada terus-menerus melebih-lebihkan skenario pengambilalihan AI atas hajat hidup manusia sepenuhnya.

 

Hal yang sama pernah dikemukakan oleh Rodney Brooks, pakar robotika di Massachusetts Institute of Technology, bahwa hampir semua inovasi dalam bidang robotika dan AI membutuhkan waktu yang jauh, jauh lebih lama—bahkan nyaris mustahil, tambahan dari saya—untuk benar-benar bisa diterapkan secara luas daripada yang pernah dibayangkan oleh orang-orang di bidangnya maupun pada umumnya.

 

Dan, ini poin penting saya kira. Sebab, ada kecenderungan kita mengira bahwa sesuatu yang technically possible berarti juga practically deployable. Padahal keduanya berbeda jauh. Membuat sebuah mesin mampu melakukan sesuatu di laboratorium, itu tidak lantas menjamin kesiapan penerapannya di sekolah, contoh, rumah sakit, pengadilan, pemerintahan, apalagi masyarakat yang jauh lebih kompleks.

 

Belum lagi ketika kita membincang kerentanan AI terhadap serangan dan manipulasi. Di mana sistem AI ini dapat ditargetkan oleh AI lain atau oleh pihak tertentu untuk membuatnya berperilaku dengan cara tertentu atau menghasilkan prediksi yang keliru. Karena itulah tidak heran ketika banyak peneliti sejak awal mengingatkan bahaya penerapan AI tanpa standar keamanan dan mekanisme pertahanan yang memadai.

 

Olehnya, ketika kita ingin benar-benar menuai manfaat dan meminimalkan dampak buruk AI, kita harus memikirkan bagaimana machine learning ini dapat diaplikasikan dengan baik dalam pemerintahan, bisnis, pendidikan, dan kehidupan sosial. Tentu, kita perlu lebih dulu membahas lebih dalam perihal etika atau standar moral AI, sekaligus mempertimbangkan ketidakpercayaan banyak orang terhadap mesin ini.

 

Yang tidak kalah penting adalah kita mesti menyadari betul sampai di mana kelemahan AI dan di bidang mana peran manusia tidak bisa digantikan sama sekali. Sebab kecerdasan tidak sekadar kemampuan menghitung saja, bukan? Melainkan ada pertimbangan moral, pengalaman, empati, konteks sosial, intuisi, dan tanggung jawab, tentunya.

 

Bahkan, AI yang belakangan dikembangkan IBM Watson untuk menangani kanker menghadapi penolakan dari para pakar medis di berbagai rumah sakit tempat sistem itu diuji. Demikian pula dalam kasus sistem algoritmik yang digunakan dalam sistem peradilan Amerika Serikat kala itu, memunculkan persoalan serius mengenai bias rasial dalam penilaian risiko kriminal. Hehe, jadi AI-nya mengikuti cara berpikir orang Amerika yang rasis. Kwkwk.

 

Terkahir, bagaimana pun menjanjikannya proyek ini, bagaimana pun gegap-gempitanya reaksi publik, dan bagaimana pun optimisnya para politisi serta pemangku kebijakan, AI tetaplah AI. Ibarat makanan, AI sebetulnya terlalu manis. Jadinya, alih-alih menyehatkan, ia malah memicu dan memacu pertumbuhan penyakit.

 

Dan saya kira pelbagai contoh di atas sudah cukup membuktikan bahwa AI tidak bisa diterapkan pada semua hal; AI tidak bisa dijadikan solusi atas segala persoalan. Dan, tidak semua masalah dapat diselesaikan oleh algoritma.


Juga, inilah bagian yang paling penting: tidak semua hal yang bisa diotomatisasi lantas layak untuk diotomatisasi. Lantaran setiap pemanfaatan AI juga akan menagih bayaran, pastinya: biaya ekonomi, energi, privasi, keamanan, tenaga manusia, bahkan biaya sosial dan moralitas.

 

Dus, pertanyaan terbesar kita tentang AI hari ini bukan lagi: Apa yang bisa dilakukan AI? Melainkan: Apa yang tidak seharusnya AI lakukan? Barangkali begitu.


Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
Haha
1x donasi
Rp50.000
#2
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
2x donasi
Rp6.000
#3
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#4
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama 😄
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 10 Sep 2026
Diperbarui: 11 Sep 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. © 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!