Logo
βŒ•
Jakarta: Antara Kebutuhan Hidup & Gaya Hidup
Beranda β€’ Artikel β€’ Kebudayaan kita

Jakarta: Antara Kebutuhan Hidup & Gaya Hidup

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
πŸ“ Kebudayaan kita
πŸ‘οΈ 9 β€’ ❀️ 0 β€’ πŸ’¬ 0
⏱️ 1 menit
πŸ“… 03 Nov 2026
Ringkasan:
Di Jakarta, saat sebagian besar masyarakat berpeluh memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup hari ini, lainnya tengah sibuk menabalkan kelas sosial barunya. Tentu, tidak semua orang yang hidup berkecukupan terobsesi dengan gaya hidup seperti itu, sebagaimana tidak semua orang tidak berpunya kehilangan kesempatan untuk bermimpi. Lamun, di antara keduanya, ada satu gejala yang menarik perhatian saya: Polarisasi dari kebutuhan hidup ke gaya hidup. Dan, ini seakan menjadi penyakit sosial yang ditata sedemikian rapi dan disensasionalisasi hingga ke titik nadir terendah masyarakat ini.
Aa AA

Di Jakarta, cukup mudah mendapati orang-orang yang mengais makanan di tempat-tempat sampah. Tidur di kolong jembatan atau sudut-sudut bangunan yang sesak dengan manusia yang saling berebut hunian. Atau, mereka yang menarik gerobak ke sana-sini mencari peruntunganβ€”tanpa alas kaki, terkadang.

 

Pemandangan lain yang seolah sengaja diternak pemerintah adalah mereka yang berbaju compang-camping dengan karung di punggung dan anak kecil di pinggangnya berburu plastik dan kardus-kardus bekas yang terbuang. Bahkan, usaha yang jarang bahkan mungkin tidak pernah terbetik di benak sebelumnya juga menghantui gang-gang sempit di kampung-kampung kumuh yang jaraknya sejengkal dari kawasan elit: Setrika keliling, jasa jahit keliling, serta pelbagai upaya mengharukan lainnya untuk sekadar pengganjal perut. Miris betul!

 

Jujur, hampir setiap kali pulang dari sekolah, saya mendapati pemandangan yang sama di sisi jalan yang tidak jauh dari taman. Para pemulung berkumpul, terkadang sambil makan dan menyuapi anaknya di samping pagar salah satu rumah mewah. Mereka menunggu entah apa, dan sesekali berbicara satu sama lain dengan air muka yang membuat hati serta pikiran saya kacau balau setiap kali mengingatnya.

Iklan

 

Salah satu di antara mereka, ibu-ibu yang umurnya kira-kira 40-an lebih, seringkali saya dapati duduk termenung di tempat yang sama dengan beberapa kardus dan plastik di sekitarnya. Sekilas, ia seperti menahan sakit, demam akut kayaknya. Lantaran ia sering menutup kepala dan tubuhnya dengan sarung panjang. Tentu hal ini masih mendingan daripada jakarta yang pernah saya baca di buku Seno Gumira Aji Darma dan buku-buku lain perihal kemiskinan dan pemiskinan itu.

 

Namun, saya harap sidang pembaca tidak salah paham dengan pernyataan terakahir. Ini sama sekali bukan upaya membela pemerintah dengan menganggap mereka cukup berhasil, apalagi berbalik menyalahkan masyarakat. Malah sebaliknya, ini menunjukkan pemerintah negeri ini betul-betul tidak becus dan sedemikian nir-empati. Bahkan, ehh… sudahlah, saya sudah muak dan rasanya ingin muntah kalau melanjutkannya, mending cerita hal lain saja. Hiii.

 

Baik, beberapa hari lalu saat melewati sebuah swalayan setelah bundaran, saya berpapasan dengan bapak-bapak tua yang menjual gelas dengan rangsel besar di punggung dan tiga gelas di tangan sebagai contoh. Ia menyusuri jalan di teriknya matahari menjajakan barang yang peluang larisnya hampir mustahil dengan banyaknya tokoh daring dan luring bertebaran, di tengah persaingan bisnis yang kian menggila dan bersimbah gairah ini.  

 

Dan, saya kira, puan dan tuan sudah bisa menebak bagaimana raut mukanya menyusur jalan-jalan kota Jakarta yang punya dua matahari dengan jarak yang lebih dekat itu. Ya, di kota yang langitnya selalu murung ini; yang bintang-gemintang seolah tidak sudi menampakkan diri lantaran awannya sangat awet di sini.

 

Kalau ojek online jangan ditanya lagi. Jutaaan. Saya bahkan sulit membayangkan bagaimana kacaunya Jakarta seandainya tidak ada pekerjaan bernama ojol ini. Tetapi, memang, efek sampingnya juga ada, karena semakin buat macet. Namun, itu juga karena sedari awal pemerintah kita keliru berinvestasi di bidang transportasi. Bukannya mengutamakan kereta, malah memilih kendaraaan mobil dan motor. Aduhh. Ya, begitulah. Dan, tentu, masih ada kemungkinan pekerjaan lain, hanya saja ojol ini seolah-olah menjadi pekerjaan yang syaratnya simpel yang tidak perlu ijazah dan persyaratan administrasi ribet lainnya. Ehh, jadi hampir lupa. Menjadi presiden dan wakil presiden juga boleh tanpa ijazah yang jelas di Konoha ini. hehe.

 

Ya. Di Jakarta, saat sebagian besar masyarakat berpeluh memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup hari ini,  lainnya tengah  sibuk menabalkan kelas sosial barunya. Tentu, tidak semua orang yang hidup berkecukupan terobsesi dengan gaya hidup seperti itu, sebagaimana tidak semua orang tidak berpunya kehilangan kesempatan untuk bermimpi. Lamun, di antara keduanya, ada satu gejala yang menarik perhatian saya: Polarisasi dari kebutuhan hidup ke gaya hidup. Dan, ini seakan menjadi penyakit sosial yang ditata sedemikian rapi dan disensasionalisasi hingga ke titik nadir terendah masyarakat ini.

 

Orang yang sedikit lebih beruntung karena bisa keluar sedikit dari jeratan kebutuhan hidup, bukannya mengupayakan hal lain yang lebih bermanfaat, mereka justru dijerat lagi oleh  gaya hidup ala kapitalisme. Barang-barang yang mereka gunakan tetiba tidak lagi dianggap cukup hanya dari segi fungsi, padahal sewaktu hidup susah itu biasa aja. Sekarang, barang-barang mereka mesti memiliki nilai flexing. Hehe. Semua-muanya kalau perlu.

 

Lingkaran sosial saya saat ini, misalnya, seolah menjadikan iphone sebagai standar di sana-sini dengan berbagai spesifikasi. Demam iphone. Begitu kira-kira. Bahkan, ketika mengunjungi blok M di Jakarta Selatan, saya memperhatikan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Saya heran, kok bisa-bisanya ya mereka punya iphone yang harganya belasan juta rupiah dalam waktu singkat? Mengapa begitu mudah bagi mereka berganti dari satu tipe ke tipe lainnya? Beruntung benar mereka. Jujur, saya penasaran lantaran kepengin juga. Hihi. Biar bisa berbaur-gaul tanpa minder gitu. Kwkwk.

 

Tetapi, saya tidak sedang mengatakan bahwa membeli iphone adalah kesalahan lo ya. Sama sekali tidak. Orang boleh saja membeli barang mahal selama mampu dan memang menginginkannya. Dan, saya pun tidak hendak menghakimi anak-anak muda yang mengganti telepon genggamnya setiap kali ada tipe baru, lantaran barangkali mereka punya alasan tersendiri melakukannya. Iya, kan? Apalagi itu duit mereka sendiri; hasil kerja mereka sendiri. Dan, bisa jadi karena kebutuhan pekerjaan, kecintaan pada teknologi, atau sekadar keinginan menikmati sesuatu yang mereka sukai. Tapi, yang jelas, hal ini nampak menjadi patologi sosial lantaran gaya selangit ini justru memuncak di kegagalan sistem dan kemiskinan struktural in this economy. Hehe.

 

Saya teringat drama kolosal Persuit of Jade yang diangkat dari novel Zhu Yu karya Tuan Zi Lai Xi. Ini dracin sebetulnya, kurang baik bagi yang penonton serius, apalagi kalau selera film Anda sekelas Game of Throne, film ini sangat tidak layak. Tapi bagi yang menonton film sebagai bagian dari riset, film ini tentu boleh-boleh saja. Terlebih bagi mereka yang suka romans dengan sedikit bumbu sejarah dan pertikaiaan, saya nyatakan: ini film Anda. Silakan!

 

Jadi, begini, ada satu momen di film itu kalau tidak salah episode ke-17, yang menceritakan bagaimana bintang utamanya yang memerankan diri sebagai penjagal babi terpaksa meninggalkan kampung halaman untuk mencari adiknya yang diculik oleh segerombolan bandit pasca pembantaiaan massal.

 

Dengan ilmu kanuraga dan bela dirinya yang terbilang lumayan, ia menyisir setiap tempat penyekapan. Tapi, alih-alih menjumpai adiknya, ia justru menemukan sejumlah anak-anak kampung sebelah yang disekap dan membebaskannya. Ia tak pupus harapan dan terus melakukan patroli seorang diri hingga dikenal oleh masyarakat luas.

 

Ketenarannya, bahkan, merebak luas hingga dipercaya oleh masyarakat sebagai dewi penyelamat. Perempuan yang hendak terlindung di pesiarannya dari para bandit pun meniru gaya dan cara berpakaiannya hingga semua perkakas dan senjata jagalnya tidak luput diadapatasi. Ya, tindak-tanduknya seolah menjadi azimat; gaya hidupnya perlahan dianggap jimat. Begitu, kira-kira.

 

Sayangnya, yang ditiru dan digugu sekarang tidak lagi memedulikan nilai. Dan, memang, saat ini kita hidup di tengah masyarakat yang tidak hanya menuntut masyarakat untuk berhasil, melainkan juga perlu menunjukkan bahwa ia berhasil. Bukan hanya punya uang, tapi juga perlu punya barang untuk menunjukkan bahwa ia punya uang. Hihi. Konsekuensinya jelas, kita bisa merasa tertinggal bukan lantaran kebutuhan dasar tidak terpenuhi (pada kasus orang yang berpunya) melainkan barang yang kita punya tidak lagi sesuai standar sosial.

 

Semisal, dulu, boleh jadi makanan warung lima ribuan dianggap cukup, tapi setelah berganti lingkaran sosial, ia tidak lagi memiliki daya tarik sama sekali. Bahkan, boleh jadi dianggap merendahkan diri ketika mengkonsumsi makanan yang sama.

 

Dus, sekali lagi, ini bukan kesalahan masyarakat sepenuhnya, melainkan kegagalan sistem akibat ketidakbecusan pemerintah. Ya, pemerintah. Itu inti dari awal sampai akhir corat-coret yang mirip tulisan ini: ketidakbecusan pemerintah.   

 

 


Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
Haha
1x donasi
Rp50.000
#2
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
2x donasi
Rp6.000
#3
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#4
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama πŸ˜„
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 03 Nov 2026
Diperbarui: 04 Nov 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!