Saya ingin menceritakan satu gejala yang menurut saya cukup aneh di Negeri ini, entah itu dalam cara kita beragama maupun cara kita memandang profesi, yakni pendangkalan dan penjarakan. Pendakalan ini kurang lebih seperti pembodohan yang disengaja, diatur sedemikian rupa agar keberlangsungannya tetap terjaga. Ironisnya, sasaran paling empuknya adalah masyarakat miskin di negeri kita.
Di banyak tempat, orang-orang miskin seringkali dibiarkan begitu saja. Pendidikan yang mereka dapat boleh dibilang itu-itu doang: sederhana, untuk tidak bilang dangkal, bahkan di beberapa ranah sangat jauh dari kata layak dan digadaya. Biasanya, lulusan dari sekolah itu nantinya ngajar lagi di sekolah itu, dan muter-muter terus sampai makin goblok dan terbelakang.
Ibarat peternakan hewan gitu, tapi karena ini manusia, yang diternak adalah kebodohannya, hehe. Dan, saya kira puan dan tuan sudah tahu mengapa ini dibiarkan? Ya betul sekali, ia menguntungkan bagi politisi yang memang gandrung mengeksploitasi kemiskinan dan orang miskin demi suara, cuan dan selangkangan.
Ceramah agama yang mereka serap juga tidak kalah mirisnya. Isinya seringkali hanya berkutat di situ-situ saja selama bertahun-tahun bahkan abad. Ya surga-neraka, dosa-pahala, halal-haram, paling banter iming-iming selangkangan bidadari dan obat mujarab ala ponari serta hal-hal memuakkan nan menjijikkan lainnya. Dan ini terus diulang-ulang, disiar-wartakan tanpa bosan-bosan.
Seandainya itu makanan, bisa dibilang mirip MBG-lah yang dipaksakan sekalipun tidak layak dan peruntukannya kurang jelas serta sarat dengan nuansa politis sebagai strategi demi pencalonan presiden di pemilu mendatang. Polanya sama saja dengan Presiden sebelumnya, bungkusaannya saja yang diubah.
Belum lagi kalau melihat sinetron-sinetron yang disediakan di tv-tv atau channel yang bisa diakses, uhh ini tidak kalah menjengkelkannya. Tayangannya jarang ada perbincangan keadilan sosial, sulit kita dapati konten-konten bagaimana berpikir yang baik dan benar, bagaimana agama bisa dijadikan penggerak untuk kemajuan, memperbaiki hidup dan sebagainya, bagaimana masyarakat tidak terjabak pada radikalisme di satu sisi dan sekularisme ekstrim di sisi lain. Dan dampaknya cukup fatal saya kira, karena agama akan dianggap sebagai seperangkat aturan yang harus dipatuhi semata, bukan pengetahuan yang membuka wawasan akan kehidupan.
Gejala ini cukup mudah untuk kita lihat buktinya. Semisal, betapa banyak orang muslim yang kesehariannya ikut ngaji, tapi cara pandangnya tetap di situ-situ aja. Mereka diajak sabar, tetapi tidak diberitahu bagaimana keluar dari permasalahan. Jadinya, agama, sekali lagi, hadir seolah-olah hanya menyampaikan sabar dan syukur tanpa pernah mengajak berpikir, mengkritisi keterlanjuran sistem dan kebobrokan serta kesembronoan para pemangku kebijakan yang menjadi dalang dari pendangkalan dan pemiskinan masyarakat negeri ini.
Di sisi lain, kelompok menengah dan kaya, penjarakan menjadi satu penyakit tersendiri. Memang, perintah agama secara umum tetap dijalankan, bahkan terlihat lebih rapi dan waow, tetapi ia semakin berjarak dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Kita melihat orang-orang melakukan haji dan umroh berkali-kali, bahkan tidak sedikit yang menjadikannya sebagai pencapaiaan pribadi atau simbol kesalehan ala kolonial. Padahal di sekitarnya banyak orang yang kesulitan membayar sekolah anaknya bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau pedagang kecil yang butuh modal untuk bertahan hidup, dst.
Contoh lain, seseorang dengan dalih yang kurang esensial lebih memilih membeli barang bermerek, seperti tas, sepatu yang sebetulnya sudah bertumpuk dan hanya keperluan koleksi di lemari daripada membantu teman atau orang lain yang tengah kesulitan. Yap, hanya untuk menegaskan status sosial yang tidak jelas. Akhirnya, solidaritas yang seharusnya menjadi inti kehidupan sosial melemah pada titik ini.
Demikian halnya dengan mereka yang sekolah. Mula-mula berangkat dari keluarga menengah ke bawah lalu perlahan menjadi masyarakat menengah dan seterusnya. Seiring kenaikan status sosial ini, mereka kian mengambil jarak dengan sosial kemasyarakatan. Tak kalah parahnya, mereka mulai mendefinisikan dan mengaitkan dirinya dengan berbagai barang, pekerjaan serta lingkup pertemanannya. Tidak jarang yang bahkan menamai ini sebagai harga diri. Hehe. aneh.
Tapi, apapun itu, tulisan singkat ini tidak untuk menyalahkan masyarakat sepenuhnya, tentunya. Lantaran tatkala kita melakukan kilas balik, sejarah kolonialisme yang sayangnya tidak kunjung diretas oleh pemerintah (malahan semakin didukung), turut ambil andil dalam keganjilan ini, begitu juga kapitalisme yang kian massif dan cerdik. Jelasnya, fenomena ini dipicu bukan oleh penyebab tunggal.
Segendang sepenarian dengan itu di tengah situasi global saat ini, agama semakin berpiling dengan budaya konsumtif sebagaimana yang sudah jamak kita dapati. Banyak simbol agama yang kemudian berkelindang ria dengan pasar; busana muslim yang mahal, wisata umrah yang ekslusif, dan produk dengan label religious lainnya. Sekalipun, kalau dipikir-pikir lagi itu sah-sah saja, tapi ketika agama lebih sering muncul sebagai fashion daripada dorongan untuk memperbaiki kehidupan bersama, maka jarak antara nilai agama dan realitas sosial akan kian mengangah pada akhirnya. Dan ini bukan hal biasa, tentunya.
Padahal dalam kehidupan sehari-hari, Islam sebenarnya selalu menekankan keseimbangan sebagaimana dalam syahadatain: asyhadu alla ilaha illalah (syahadat ketuhanan) wa anna muhammadarrasululullah (syahadat kemanusiaan), demikian seterusnya antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial; transendensi dan imanensi. Jika keseimbangan ini pudar, agama bisa berubah menjadi dua hal yang terpisah: ritual tanpa pemahaman dan simbol tanpa empati kemanusiaan; kedalaman spiritual akan terpisah dengan kepekaan sosial.
Apesnya, jika gejala ini terus berlangsung, Islam beresiko kehilangan perannya sebagai kekuatan transformasi sosial. Pendangkalan akan membuat agama kehilangan kedalaman intelektualnya di satu sisi, sementara penjarakan mengikis daya etisnya di sisi lain.
Karena itu tantangan terbesar kita saat ini, bukan sekadar mempertahankan nilai tapi mengembalikan keseimbangan antara iman, pengetahuan, dan keadilan sosial. Olehnya, kita juga butuh pendidikan yang lebih terbuka saya kira, solidaritas ekonomi yang produktif bukan konsumtif, serta keberanian membaca ulang tradisi dalam konteks zaman ini sebagai upaya mengurai gejala pendangkalan dan penjarakan yang kian mengangah ini.
Komentar (0)