βSebenarnya anak ini pintar, tapi tidak tahu kenapa, setelah pulang dari kampungnya, dia kelihatan nakal,β ujar pengasuh yayasan Panti asuhan saat itu, ketika bapak dari anak perempuan tersebut didatangkan ke asrama. Dengan logat daerah Sulawesi Selatan, pengasuh itu menjelaskan kronologi bagaimana anak itu keluar dari asrama tanpa izin sejak pagi untuk bertemu seseorang yang ia sebut pacarnya, lalu kembali ke asrama saat malam tiba.
Anak perempuan itu bernama Mira. Usianya baru 13 tahun ketika pertama kali dilecehkan oleh bapak kandungnya, tepat saat jadwal pulang kampung tiba. Tidak lama, hari libur yang seharusnya berlangsung seminggu ia persingkat menjadi sehari saja. Ia memutuskan kembali ke Kota Parepare, tempat ia bersekolah dan tinggal di yayasan panti asuhan yang dinaungi oleh salah satu organisasi terbesar di kota tersebut.
Pelik sekali malam itu. Ketika ia hendak memejamkan mata di antara adik-adiknya yang masih kecil, bapaknya datang dari arah belakang secara mengendap-endap. Saat itu di kampungnya masih memakai penerangan pelita minyak tanah, sehingga cahaya di rumah remang-remang, membuat aksi bejat bapaknya semakin lancar. Hanya ada satu kamar di rumah kecil itu, kamar milik mamak dan bapaknya. Mira dan adik-adiknya tidur di ruangan tengah, hanya beralaskan tikar di atas lantai papan, dengan kelambu yang menghindarkan mereka dari gigitan nyamuk.
Mamak... gumam Mira dalam hati saat bapaknya mendekat. Tubuhnya kaku, napasnya seakan berhenti, dan dadanya terasa sesak. Mulutnya kelu, tidak kuasa untuk berteriak. Ia menangis dalam diam, air matanya jatuh karena rasa takut yang teramat sangat.
Dalam kegelapan itu, Mira merasa terancam dan sangat ketakutan. Ia terus memberontak di dalam hati, mencoba mencari cara untuk melindungi dirinya. Ia mencoba bergerak pelan, berpura-pura terganggu dalam tidurnya agar bapaknya menjauh dan menghentikan tindakannya.
Akhirnya, bapaknya berhenti dan pergi. Mira tidak peduli ke mana laki-laki itu pergi; ia hanya merasa lega karena untuk saat ini ia merasa aman. Ia membulatkan tekad bahwa besok pagi, ia harus benar-benar pergi dari rumah ini dan tidak akan pernah kembali.
"Saya pamit, Mak," ujar Mira keesokan harinya.
Ia sempat menoleh ke arah bapaknya yang sedang duduk di kursi ruang tamu dengan kepala tertunduk. Mungkin ada rasa bersalah di sana, tapi bagi Mira, perasaan itu tidak lagi berarti. Ia menganggap bapaknya sebagai orang asing sejak saat itu dan berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah menginjakkan kaki di kampung itu lagi.
Kamu sudah kehilangan anakmu, batin Mira penuh ketegasan.
Jatuh hati menjadi pelarian terdekat ketika rasa aman direnggut oleh sosok yang seharusnya menjaganya. Sebagai remaja yang kehilangan kompas, Mira memberontak. Ia mudah menyerahkan diri pada relasi lawan jenis, bukan karena cinta, melainkan putus asa mencari βrumah' yang aman untuk sekadar didengar.
Komentar (0)