Cahaya matahari sore menerobos celah dinding papan, menyoroti kepulan asap rokok lintingan di tangan Rahmat (50-an). Wajahnya kuyu, menatap layar ponsel retak yang sedari tadi tidak kunjung menampilkan notifikasi transfer.
Tenggat waktu pembayaran indekos dan semester kuliah anaknya di Universitas Hasanuddin Makassar yaitu besok. Sementara, upah sebagai kuli sawit liar tidak kunjung cair.
Hidup di Kalimantan benar-benar menguji batas. Banting tulang di kebun orang, memeras keringat demi sesuap nasi dan masa depan anaknya, kini terasa menyesakkan dada.
Rahmat menoleh perlahan ke arah Subaidah, istrinya, yang terduduk lesu di pinggir dipan. Tatapannya berat.
“Bu… bagaimana ini? Besok hari terakhir, tapi uangnya belum ada juga.” bisik Rahmat, suaranya parau menahan sesak.
Subaidah diam membatu. Tatapannya kosong, menembus dinding rapuh rumah mereka. Pikiran-pikiran gelap melintas, mencari celah solusi yang tidak kunjung datang. Satu nama akhirnya terlintas: Titin, tetangganya. satu-satunya harapan terakhir untuk menagih hutang yang tertunda.
Jarum jam merayap ke angka 21.01, menggelapkan suasana. Tanpa menunda lagi, Subaidah bangkit seketika, menyambar jilbabnya.
“Pak, saya ke rumah Titin sekarang,” ujarnya tegas, tanpa menunggu jawaban. “Siapa tahu dia sudah bisa bayar.”
Rahmat hanya bisa menatap punggung istrinya yang bergegas keluar. Ia merutuk lemah, menyandarkan punggungnya pada dinding bambu yang berderit pasrah. Desau angin malam menyelinap melalui celah-celah dinding, membawa hawa dingin yang menusuk tulang—sedingin kekhawatiran yang menjalar di dadanya. Jika besok uang kuliah anak mereka tidak dilunasi, habislah riwayat.
Sementara itu, Subaidah melangkah cepat menembus kegelapan desa. Napasnya memburu, berpacu detak jantung yang bergemuruh. Rumah Titin hanya berjarak tiga pohon besar dari rumahnya.
Sesampainya di depan rumah beton milik Titin, ia berhenti sejenak, mengatur napas sebelum mengetuk pintu jati yang kokoh itu.
Tok! Tok! Tok!
“Titin! Tin!” panggil Subaidah, berusaha melantangkan suara meski tenggorokannya tercekat.
Pintu terbuka. Titin berdiri di sana dengan daster sutra dan wajah yang baru saja memakai masker wajah. Ia tampak enggan menerima tamu.
“Eh, Mbak Idah. Malam-malam begini ada apa?”
Subaidah menelan ludah.
“Tin, maaf mengganggu. Soal… soal uang yang waktu itu. Apakah sudah ada? Besok tenggat waktu terakhir untuk anak saya, Tin.”
Titin mendesah panjang, sebuah desahan yang membuat perasaan Subaidah mencelos. Ia menyandarkan tubuh di kusen pintu, menatap Subaidah dengan pandangan kurang suka.
“Duh, Mbak. Bukannya belum mau bayar, tapi Mas Akmal belum gajian. Nanti kalau sudah, pasti saya kasih. Lagian, besok kan masih ada waktu, kan?”
“Tapi Tin, ini mendesak sekali! Kamu janji minggu lalu,” suara Subaidah mulai bergetar, menahan amarah.
“Mbak, tolong mengerti posisi saya juga. Jangan memaksa begitu dong,” sahut Titin ketus, lalu hendak menutup pintu.
Subaidah menahan pintu itu dengan tangannya, tatapan putus asanya berubah menjadi sorot mata yang nekat. Ia tidak bisa pulang dengan tangan hampa. Tidak malam ini.
“Kalau begitu, berikan kalung emasmu itu,” ujar Subaidah menyingkirkan sisa-sisa rasa malunya. Baginya, harga diri tidak lagi berarti di saat genting seperti ini. Toh, yang ia minta adalah haknya sendiri—meski harus dengan pemaksaan. Bayangan anaknya yang menuntut ilmu di pulau seberang terpaksa putus kuliah karena biaya, membuat dada Subaidah sesak dan nekat.
Komentar (0)