Hari itu, Ayas tidak pernah menyangka akan mendapat kado berisi sepotong celana dalam dari istrinya, Kara. Ia menyentuh permukaannya perlahan, merasakan tekstur yang membelai kulit jemarinya. 'Bahannya bagus,' gumamnya dalam hati, mengagumi kelembutan kain yang terasa premium itu.
Namun, dibalik kelembutan kain tersebut, ada sorot mata Kara yang sulit diartikan. Istrinya hanya berdiri di ambang pintu kamar, melipat tangan dengan senyum tipis penuh misteri.
“Pas, kan?” tanya Kara singkat. Suaranya datar, nyaris dingin, kontras dengan hadiah “intim” yang baru saja ia berikan.
Ayas mendongak, merasakan ada sesuatu yang mengganjal di balik hadiah sederhana ini. Apakah ini sekadar perhatian, ataukah sebuah pesan tersirat yang belum mampu ia pecahkan?
“Tumben memberiku hadiah?” tanya Ayas akhirnya, memecah ketegangan di antara mereka. Biasanya, ia sendiri yang membeli celana dalam, bukan istrinya.
“Hampir seluruh celana dalammu sudah bolong di bagian depan,” jawab Kara dingin, lalu berlalu meninggalkan suaminya yang diselimuti tanda tanya.
Keesok harinya, malam terasa senyap, tidak ada canda tawa dari sang istri sebelum tidur seperti hari-hari sebelumnya. Kejanggalan mulai merayap di benak Ayas. Di mana perempuan itu? Ayas heran, pukul 23.01 istrinya belum juga datang ke kasur untuk menemaninya terlelap.
Tak! Tak! Tak!
Suara benturan keras terdengar dari arah dapur. Ayas beranjak, melangkah pelan mengecek sumber suara. Di dapur, ia melihat Kara sedang memotong sesuatu dengan kapak—tulang yang besar. Suasana mencekam. Kara tidak menyalakan lampu utama, hanya sebuah senter dengan cahaya redup yang menyoroti aksinya.
Napas Ayas tertahan di tenggorokan. Bau anyir yang tajam menyeruak, menusuk hidung lebih cepat daripada keberaniannya untuk menegur. Cahaya senter itu bergoyang ritmis seiring dengan ayunan kapak Kara yang mendarat telak di atas talenan kayu tebal.
“Kara?”
Gerakan tangan Kara terhenti seketika. Hening menyergap dapur itu, hanya menyisakan suara tetesan air dari keran yang bocor. Kara tidak menoleh. Punggungnya yang tegang perlahan merileks, ia meletakkan kapak itu dengan denting logam yang pelan namun terdengar mengancam.
“Kenapa belum tidur, Yas?”
Ayas mundur selangkah, matanya terpaku pada sosok gelap di depannya. “Itu… apa yang kamu potong? Jam 11 malam?”
Kara akhirnya memutar tubuhnya. Cahaya senter dari meja memantul di sudut matanya, menciptakan kilatan aneh. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang—Ayas menyadarinya dengan ngeri—terciprat noda gelap.
“Hadiah.”
Ayas menelan ludah, dadanya bergemuruh.
“Itu tulang apa? Ukurannya terlalu besar untuk seekor ayam.”
“Memang bukan ayam. Ingat pria yang kamu bawa ke rumah tempo hari? Dia tidak akan mengganggumu lagi.”
Dunia seolah berhenti berputar bagi Ayas. Ia melihat ke arah meja dapur lagi, dan kali ini, dibalik potongan tulang besar itu, ia melihat sesuatu yang berkilau di lantai: beberapa kotak celana dalam pria dengan merk LGS SPORT berserakan.
“Sop tulangannya sudah jadi. Semoga panjang umur dan sehat selalu, suamiku.”
Ayas termangu. Ia meraba dinding, mencari saklar, lalu menyalakan lampu. Cahaya terang benderang seketika.
“Ini celana dalam untukmu.”
“Semua ini?” Ayas melirik istrinya, masih bingung.
“Masa untuk temanmu?” Kara meletakkan panci sop di meja, lalu memeluk suaminya erat. “Aku berinvestasi pada kesehatan ‘asetmu’ itu. Supaya bebas jamur dan bisa membahagiakanku untuk waktu yang sangat lama.”
Komentar (1)