Logo
βŒ•
Sebuah Catatan Kecil dari Ruang Perawatan

Sebuah Catatan Kecil dari Ruang Perawatan

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
πŸ“ Filsafat Sehari-hari
πŸ‘οΈ 94 β€’ ❀️ 2 β€’ πŸ’¬ 0
⏱️ 1 menit
πŸ“… 03 Jun 2026
Ringkasan:
Kematian selalu hadir di hadapan manusia sebagai misteri yang paling dekat sekaligus paling jauh. Dekat karena tidak seorang pun dapat menghindarinya; jauh karena tidak seorang pun benar-benar dapat menjangkaunya selama ia masih hidup.
Aa AA


Sedari kemarin saya mendengar erangan mahasakit dari pasien di sebelah saya. Ia berdoa dengan nyaring, disusul teriakan memanggil dokter. Kadang-kadang suaranya merendah menjadi bisikan yang patah-patah, lalu kembali meninggi ketika gelombang nyeri datang menyerbu tubuhnya. Sesekali, bahkan, saya mendengarnya membincang kematian sembari menahan rasa sakit yang tampaknya tak lagi dapat ditawar oleh kata-kata maupun obat-obatan.


Tapi entah mengapa, suara itu memantik saya menyusuri labirin-labirin epistemik tentang kematian. Sebuah tema yang sejak dahulu tak pernah kehilangan daya pikatnya. Ia selalu hadir di hadapan manusia sebagai misteri yang paling dekat sekaligus paling jauh. Dekat karena tidak seorang pun dapat menghindarinya; jauh karena tidak seorang pun benar-benar dapat menjangkaunya selama ia masih hidup.


Kematian, pada dasarnya, adalah sesuatu yang paradoks, bagi saya. Ia adalah sesuatu yang pasti dan nyata. Bahkan, kepastiannya jauh lebih nyata daripada berbagai kepastian epistemik yang kita bangun melalui logika, eksperimen, atau pengetahuan. Bagaimana tidak, kita dapat meragukan hampir segala hal: teori, ideologi, kesimpulan ilmiah, bahkan kesaksian indra kita sendiri. Namun kita tidak pernah sungguh-sungguh meragukan bahwa suatu hari nanti kita akan mati.

Iklan


Akan tetapi, justru di situlah letak keanehannya. Meskipun merupakan kepastian paling mutlak dalam hidup, kematian adalah satu-satunya peristiwa yang tidak dapat kita wakilkan dan tidak dapat kita alami sebagai pengalaman yang utuh. Kita bisa menyaksikan orang lain mati. Kita bisa mencatatnya dalam sejarah, menuliskannya dalam berita, mengabadikannya dalam puisi, atau menjadikannya objek renungan filsafat. Namun kita tidak pernah bisa berdiri di titik pengalaman kematian itu sendiri.


Sepanjang sejarah manusia, kematian selalu diperbincangkan oleh mereka yang hidup. Ia hadir sebagai kabar, sebagai statistik, sebagai tragedi, sebagai kehilangan, atau sebagai cerita yang ditinggalkan oleh orang lain. Bahkan seluruh pengetahuan kita tentang kematian pada akhirnya hanyalah pengetahuan para penyintas. Kita mengenal kematian melalui jejak-jejak yang ditinggalkannya, bukan melalui dirinya sendiri. Sebab ketika kematian itu datang, kita tidak lagi berada dalam posisi untuk mengalaminya.


Anggaplah kematian adalah akhir dari pengalaman eksistensi kita di mayapada ini. Jika demikian, maka akhir dari pengalaman itu sendiri mustahil menjadi pengalaman. Ia seperti mata yang berupaya melihat dirinya sendiri tanpa bantuan cermin. Ia seolah seseorang yang ingin menyaksikan momen ketika kesadarannya padam. Yang naasnya, pada titik itu, tidak ada lagi subjek yang mengalami dan tidak ada lagi kesadaran yang mampu mencatatnya.


Lantaran itulah ungkapan Epicurus seringkali terasa mengganggu sekaligus menenangkan bagi saya. Filsuf Yunani itu sekali waktu pernah berujar bahwa ketika kita hidup, kematian tidak hadir; dan ketika kematian hadir, kita tidak lagi hidup. Dengan kata lain, tidak pernah ada perjumpaan langsung antara β€œkita” dan β€œkematian”. Yang ada hanyalah jarak yang tak pernah berhasil dijembatani oleh apapun jua.


Namun, kendati demikian, manusia tetap hidup di bawah bayang-bayangnya. Seluruh kebudayaan, agama, filsafat, bahkan ambisi pribadi kita, sebagian besar lahir dari kesadaran bahwa waktu yang kita miliki terbatas. Tetapi, mungkin justru karena kematian itulah hidup memperoleh bobot dan maknanya. Seandainya kita abadi, bisa jadi tidak ada alasan untuk bergegas mencintai, berkarya, memaafkan, atau memperbaiki diri sendiri.


Ya. Malam ini, di ruang perawatan yang sunyi dan berbau obat-obatan ini, saya kembali mendengar suara pasien di sebelah saya. Kadang ia mengerang, kadang ia berdoa. Saya tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Saya juga tidak tahu apakah ia sedang memikirkan kematian atau sekadar berharap rasa sakitnya segera mereda. Tetapi dari suaranya saya belajar satu hal: bahwa kematian mungkin memang tidak pernah bisa kita pahami sepenuhnya. Ia akan selalu menjadi horizon yang kita tuju tanpa pernah benar-benar dapat kita sentuh.


Dan jika memang pada akhirnya kita harus berjalan ke sana, maka semoga kita tiba dengan cara yang seautentik mungkin. Bukan sebagai orang yang lari dari hidup, melainkan sebagai seseorang yang telah menatap hidup apa adanyaβ€”dengan seluruh luka, cinta, kegagalan, dan keindahannyaβ€”lalu menerimanya hingga suatu hari ia tiba. 

Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
2x donasi
Rp6.000
#2
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#3
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama πŸ˜„
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 03 Jun 2026
Diperbarui: 05 Jun 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 Burhanuddin Elbusiry

Artikel Terkait

Seni Menerima Kegundahan: Sebuah Jalan Menuju Kedalaman Diri
πŸ“
27 Jan 2026

Seni Menerima Kegundahan: Sebuah Jalan Menuju Kedalaman Diri

Dalam hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, kita sering kali didorong untuk selalu merasa bahagia, optimis, dan produktif. Kegundahan, kesedihan, atau melankoli seringkali dianggap sebagai emosi yang harus dihindari, diobati, atau disembunyikan. Namun, bagaimana jika kita mengubah perspektif? Bagaimana jika kegundahan bukanlah musuh, melainkan sebuah guru yang berharga, sebuah jalan menuju pemahaman diri yang lebih dalam?
πŸ‘οΈ 166 β€’ ❀️ 1
Baca β†’
Mistik Keseharian
πŸ“
23 Feb 2026

Mistik Keseharian

Mungkin di tengah hiruk-pikuk zaman ini, yang paling revolusioner justru adalah belajar β€˜diam’; yang paling gigantis adalah mengambil jarak; yang paling radikal adalah belajar mengalami; dan yang paling filosofis adalah kembali menyusur labirin-labirin dan ruang hening di dalam diri, tempat kita bertemu dengan eksistensi diri tanpa perantara dan ilusi.
πŸ‘οΈ 401 β€’ ❀️ 2
Baca β†’
Wisata, Waktu Luang, dan Kegelisahan Modernitas
πŸ“
30 Jan 2026

Wisata, Waktu Luang, dan Kegelisahan Modernitas

Barangkali seni berlibur yang hilang dari diri kita bukanlah soal pergi, tapi bagaimana kita kembali; Kembali ke dalam diri. Lantaran Prambanan dan wisata lain dengan segala keramain dan hiruk-pikuknya, mengajarakan satu hal yang cukup ironis bagi saya: di tengah orang-orang yang mencari jeda, keheningan justru menjadi hal yang paling langka.
πŸ‘οΈ 498 β€’ ❀️ 3
Baca β†’

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!