Logo
Tubuh, Mitos dan Status Quo.

Tubuh, Mitos dan Status Quo.

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
📝 Kebudayaan kita
👁️ 151 • ❤️ 2 • 💬 3
⏱️ 1 menit
📅 24 May 2026
Ringkasan:
Di sinilah, saya kira, film ini menjadi menarik sebagai medium pengetahuan sekalipun ia tidak akan pernah sama dengan membaca buku, menurut saya. Ia tidak sekadar memotret realitas, tetapi juga membongkar cara realitas diproduksi dan disebarluaskan.
Aa AA

Selama kurang lebih dua minggu pasca operasi yang aduhh ternyata sakit sekali, masya Allah, saya berupaya menghabiskan waktu membaca ulang beberapa buku-buku lama dan menonton film untuk mengalihkan rasa sakit, bosan, sekaligus mengusir muak atas pemerintah(an) bangsa(t) saat ini. Dalam keadaan tubuh yang belum sepenuhnya pulih ini, saya mencoba menelusuri ulang sejarah, membongkar keyakinan-keyakinan lama, dan memeriksa bagaimana manusia membangun peradabannya melalui cerita, obat-obatan, perang, bahkan mitos.


Ratusan episode dari puluhan film saya tamatkan. Mulai dari drama Korea bertema politik dan medis, perang ala Barat yang penuh intrik kekuasaan, hingga kisah-kisah Timur yang menekankan kebijaksanaan dan harmoni semesta. Semuanya cukup menghibur. Tetapi hiburan, saya kira, tidak pernah benar-benar netral. Film yang baik selalu membawa penontonnya masuk ke dalam ruang refleksi yang lebih dalam daripada sekadar tontonan. Dan sore tadi, serial drama kolosal Thailand Laplae the Hidden Town (2024) membawa saya pada sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar romans fantasi.


Serial yang dibintangi oleh Piyathida Mitrteeraroj, Piangfah Atthiya, dan Malimarisar itu berdurasi sekitar lima belas jam yang butuh lebih dari sekadar niat untuk memungkasinya. Di permukaan, film ini tampak seperti drama romantis bercampur legenda mistik khas Asia Tenggara. Namun semakin jauh ditonton, kian tampak bahwa serial ini dibangun dengan riset yang serius. Ia menggabungkan antropologi, sejarah, musik, gender, politik tubuh, hingga sejarah pengobatan tradisional dalam satu lanskap naratif yang nyaris hipnotik.

Iklan


Yang paling menarik bagi saya bukanlah kisah cintanya, melainkan bagaimana serial itu membawa saya melakukan kilas balik terhadap bacaan-bacaan lama tentang sejarah ganja dunia dan ritus-ritus kepercayaan kuno. Dulu saya membaca buku yang memuat lebih dari lima ratus rujukan akademik tentang sejarah penggunaan tanaman psikoaktif dalam peradaban manusia. Saat itu sulit dipercaya bahwa banyak perang, kriminalisasi, bahkan pembentukan hukum modern ternyata tidak sepenuhnya lahir dari pertimbangan moral atau kesehatan, melainkan juga dari perebutan ekonomi-politik global via kisah-kisah mistik, perang narasi.


Dalam sejarah kuno, misalnya, ganja tidak selalu dipandang sebagai zat kriminal sebagaimana sekarang. Di banyak peradaban kuno—India, Tiongkok, Timur Tengah, bahkan sebagian Afrika—ia digunakan dalam ritual spiritual, pengobatan, dan praktik meditasi. Dalam teks-teks Ayurveda kuno di India, cannabis (nama lain dari ganja) dipandang sebagai salah satu tanaman sakral yang memiliki kemampuan terapeutik dan spiritual.


Demikian halnya di Tiongkok kuno, catatan pengobatan tradisional juga menyebut penggunaannya untuk mengurangi rasa sakit dan membantu anestesi sebagaimana jamak digunakan saat ini. Bahkan dalam beberapa ritus mistik Asia Tengah dan Siberia, zat-zat psikoaktif dipakai sebagai medium perjalanan lintas dimensi menuju “dunia lain”. Namun kolonialisme modern kelak mengubah semuanya. Dan, saya kira puan dan tuan sudah tahu dalang dari semua ini.


Tatkala ekonomi dunia mulai dikendalikan oleh kepentingan industri dan perdagangan internasional, banyak tanaman lokal yang sebelumnya bersifat kultural kemudian dikriminalisasi. Sejarah bahkan mencatat bagaimana Amerika memainkan peran besar dalam kampanye global pelarangan cannabis dan tanaman lainnya pasca kalah saing. Ya, di balik narasi moral dan kesehatan yang kerap diumbar sedemikian gila itu, sebagaimana yang sudah jamak kita tahu, ada kepentingan ekonomi dan kuasa yang sangat besar: industri farmasi, tekstil sintetis, hingga politik perdagangan internasional, dst, tentunya.


Hal yang sama juga dapat dibaca dalam konteks perang opium di Tiongkok, ketika candu dijadikan instrumen imperialisme ekonomi oleh kekuatan Barat. Memang, tubuh manusia sudah sejak lama menjadi medan peran politik kuasa dan perniagaan.


Dan dalam serial Laplae the Hidden Town menarik lantaran menyisipkannya melalui simbol-simbol budaya. Dalam serial itu, ilmu medis kuno tampil bukan hanya sebagai metode penyembuhan, tetapi juga sebagai instrumen kuasa. Pengetahuan tentang tubuh menjadi alat politik. Orang-orang tertentu dapat dianggap suci, terkutuk, atau berbahaya berdasarkan bagaimana penguasa mendefinisikan kesehatan dan penyakit.


Di titik ini saya teringat pada pelbagai mitos lokal di Sulawesi seperti parakang atau poppo—figur-figur yang selama ini dianggap sebagai manusia dengan kelainan supranatural mengerikan. Dalam banyak masyarakat tradisional, figur semacam ini biasanya lahir dari ketakutan kolektif terhadap sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Tetapi serial Thailand ini  menawarkan narasi berbeda: “kelainan” pada manusia ternyata bisa saja dibentuk secara sosial dan biologis melalui penggunaan ramuan, obat-obatan, serta manipulasi psikologis oleh penguasa demi mempertahankan status quo. Kurang lebih sebagaiman saat ini, tapi dalam bentuk yang sangat halus. Hehe.


Di sinilah, saya kira, film ini menjadi menarik sebagai medium pengetahuan sekalipun ia tidak akan pernah sama dengan membaca buku, menurut saya. Ia tidak sekadar memotret realitas, tetapi juga membongkar cara realitas diproduksi dan disebarluaskan. Saya teringat dengan Michel Foucault, ia pernah menjelaskan bagaimana kekuasaan modern bekerja melalui pengaturan tubuh: menentukan mana yang sehat dan sakit, normal dan abnormal, suci dan menyimpang. Dalam konteks itu, ritual kuno, obat-obatan, bahkan mitos horor lokal dapat dibaca sebagai bagian dari teknologi sosial untuk mengendalikan masyarakat.


Mungkin karena itulah saya merasa serial drama kolosal ini terasa “mengganggu” sekaligus memikat. Ia memaksa kita bertanya: berapa banyak hal yang selama ini kita anggap mutlak ternyata hanyalah konstruksi sejarah? Berapa banyak hukum lahir bukan demi moralitas, tetapi demi kepentingan ekonomi dan politik? Dan berapa banyak ketakutan manusia ternyata sengaja dipelihara agar kekuasaan tetap bertahan? Kwkwk.


Pada akhirnya, masa pemulihan pasca operasi ini justru memperlihatkan sesuatu yang ironis: ketika tubuh melemah, pikiran malah berjalan semakin jauh. Film, buku, dan sejarah berkelindan menjadi semacam terapi yang aneh. Ia tidak menyembuhkan rasa sakit fisik, tetapi setidaknya membuat saya sadar bahwa dunia memang dibangun di atas cerita-cerita besar yang terus diperebutkan maknanya.


Dan barangkali, di tengah kebisingan politik serta kebusukan pemerintahan hari ini, satu-satunya cara agar tetap waras adalah terus membaca, menonton, lalu mempertanyakannya sebagaimana filsafat yang seringkali bermula dari hunusan tanya pada hal-hal kecil yang banyak di antara kita tak menyangka akan melahirkan pemikiran yang brilian. Mungkin itu dulu, guys. Sekian. Mohon doanya ya. Hehe.

 



Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
2x donasi
Rp6.000
#2
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#3
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama 😄
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 24 May 2026
Diperbarui: 05 Jun 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. © 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (3)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Liora Eowyn
Liora Eowyn
24 May 2026, 15:00
Jadi penasaran dgn film nya, cusssss kita beralih ke netflix. Semoga lekas pulih pasca operasinya.
0
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
26 May 2026, 17:42
semoga lekas pulih mas
0
Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
27 May 2026, 14:43
Terima kasih, mas
0