Logo
βŒ•
Binatang dan Monetisasi Ruang Kosong
Beranda β€’ Artikel β€’ Kebudayaan kita

Binatang dan Monetisasi Ruang Kosong

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
πŸ“ Kebudayaan kita
πŸ‘οΈ 354 β€’ ❀️ 0 β€’ πŸ’¬ 0
⏱️ 1 menit
πŸ“… 12 Aug 2026
Aa AA

 Pekan lalu saat menyusuri taman kota dekat sini, saya berpapasan dengan beberapa pemuda yang tengah jalan-jalan sore bersama dengan anjing-anjing peliharaanya. Kelihatannya sangat menarik. Satu orang membawa dua sampai tiga anjing dari ras terbaik dan di samping mereka seorang kameramen tengah mengambil video dan gambar untuk keperluan kontenisasi, nampaknya.

 

Sembari melangkah saya terus membatin, sebagai upaya meretas tanya yang kian menghunjam jantung penasaran saya: sejak kapan manusia mulai mencari teman dari dunia binatang? Dulu, binatang hampir sepenuhnya dijadikan buruan, lalu didomestikasi atau dijinakkan dan lambat laun dipelihara sebagai penjaga rumah dan keperluan lainnya. Kucing untuk menangkap tikus, semisal; anjing demi keamanan rumah dan berburu; kerbau dan spesiesnya membajak sawah; kuda dan semacamnya untuk tunggangan; burung-burung dalam rangka bersurat serta hiburan dan seterusnya. Kedengarannya agak eksploitatif ya guys. Hehe.

 

Kian hari, kesadaran manusia dalam memperlakukan binatang boleh dibilang semakin meningkat. Anggaplah demikian. Lantaran binatang saat ini tidak lagi sekadar dipelihara, tetapi diperlakukan layaknya anak sendiri bahkan di beberapa kasus melebihi dengan berbagai kriteria. Wiss. Menariknya, fenomena ini tidak hanya bercerita tentang betapa sayangnya manusia kepada binatang di satu sisi. Ia juga mengisahkan sesuatu yang lebih dalam dan kompleks di sisi lain.

Iklan

 

Contoh, kebanyakan orang yang memelihara binatang, apapun itu, rada-rada rasis. Haa, rasis? Ya, rasis terhadap jenis binatang. Banyak yang hanya ingin memelihara anjing khusus saja, bukan? sesuai selera dan keperluan serta ketenarannya. Iya, kan? Intinya layak pamer dan memberi nilai lebih bagi puan dan tuannya. Anjing persia, semisal. Ehh, maksud saya kucing Persia. Hehe. Dan jenis lain seperti Angora, British Shorthair, Maine Coon, atau anjing tertentu seperti Poodle, Husky, Golden Retrevier, Pomeranian, Shih Tzu, dst.

 

Pokoknya yang punya silsilah, punya sertifikat, punya harga, punya gengsi dan daya pikat serta pukau yang recognizable. Hihi. Dan yang tidak jelas asal-usulnya, maaf-maaf saja tidak masuk hitungan. Kwkwk. Sekilas mirip kisah holocaust nazi ya teman-teman, yang terispirasi dari buku Madison Grant, the Passing of the Great Raceβ€”Berlalunya Ras Hebat. Sekedar info, kelak buku ini diterjemahkan ke bahasa Jerman dan menjadi buku favorit Adolf Hitler. Dan suatu ketika Hitler menulis surat ke Grant menyampaikan bahwa buku itu adalah kitab sucinya dan inilah yang mendalangi ia melakukan genosida atas ras selain apa yang ia namai nordikβ€”yang dianggap terbaik dari ras arya. Ngeri.

 

Ini tentu sekadar guyon dan pemanis tulisan saja. Tapi kalau dipikir-pikir, ada sesuatu yang menarik dibalik kebiasaan mengkotak-kotakkan binatang peliharaan, lantaran kita membawa pola pikir sesama manusia: membeda-bedakan, mengelompokkan, memilih mengunggulkan, dan sesekali merendahkan. Pasalnya, manusia, pada ranah ini, tidak hanya memelihara binatang, tetapi juga menciptakan semacam hirarki sosial di antara binatang.  

 

Selain itu, fenomena ini, bisa jadi adalah sebentuk pelarian manusia dari kekacauan hubungan sosialnya dengan manusia lain. Coba pikirkan, manusia ini merepotkan: manusia kerap salah paham; mengecewakan apalagi; mengkhianati; menuntut terlalu banyak; tetiba berubah. Bahkan orang yang paling dekat dengan kita pun terkadang menjadi orang yang paling pelik dan paling sering disalahmengerti. Pokoknya lebih ruwetlah. Kira-kira begitu.

 

Sementara binatang, terasa lebih sederhana. Tidak minta ini dan itu. Kalau kita terlambat tidak ngomel. Tidak tanya soal pilihan politik. Tidak menyoal perihal kerjaan dan besaran gaji. Hehe. Status sosial atau gendre bacaan biasa pun bukan penghalau. Sudah baca atau belum bukan masalah. Intinya simpel.

 

Ditambah lagi kita tidak perlu menghadapi percakapan sosial yang penuh basa-basi, kira-kira demikian; konflik dengan bahaya latennya yang berkepanjangan; atau menyiapkan tameng mental untuk sebuah penolakan dan ketidaksukaan. Ya, saking enteng dan nyamannya hubungan seperti ini, sampai-sampai fenomena nikah dengan selain manusia kian marak beberapa dekade terakhir: dengan hewan; hologram, robot, pepohonan, dan seterusnya.

 

Barangkali, tepat di jantung pembahasan inilah memelihara binatang menjadi menarik untuk dibaca sebagai gejala sosial. Bukan hanya lantaran manusia semakin mencintai binatang, melainkan karena manusia sedang mencari bentuk hubungan yang semakin sulit ditemukan dalam kehidupan sosialnya sendiri. Lebih kurang sebagai pelarian dari kesepian yang tak kunjung reda.

 

Tetapi, tenang saja. Kabar baiknya, tetap ada yang untung besar dari semua kebiasaan yang lagi naik daun ini. siapa? Gerombolan kapitalis. Kwkwk. Ya, para penjual barang dan aksesoris serta penyedia jasa perawatan, mulai dari creambath, grooming, haircut/trim, detangling, clipping, ear cleaning, dental cleaning, sanitary trim, de-sheading, paw care, dan istilah-istilah jelimet lainnya bisa meraup untung. Hehe.

 

Belum lagi makanan khusus, pakaiaan, tempat tidur, mainan, salon, spa, pasir tertentu biar tahinya wangi. Kwkwk. Ada juga penitipannya. Dan mungkin sekarang sudah ada rumah sakit khususnya. Bahkan, sebentar lagi ada psikolog khusus binatang stress lantaran majikannya terlalu overthinking dengan kesehatan piaraannya dan sebagainya. Aduhh, saya sampai mau stress menyebutkannya satu persatu guys.

 

Bayangkan saja, bagaimana anjing dan binatang lainnya dikapitalisasi sedemikian rupa. Hehe. Ya, binatang yang dulunya cukup diberi makan ala kadarnya dan tempat berteduh layak, kini punya gaya hidup. Wiss. Mereka bahkan punya makanan premium, pakaiaan musiman, parfum, bahkan hal yang paling konyol dan tak terpikirkan sebelumnya: ulang tahun yang dirayakan dengan kue khusus.

 

Sebentar lagi, barangkali, ada binatang yang punya rekening bank; club gym. Hihi. Betul-betul, manusia tidak hanya memelihara binatang, ia juga turut menciptakan industri di sekelilingnya. Waow. Sungguh sebuah prestasi yang tak terbayangkan, saya kira. hehe

 

Dan, pastinya, di sanalah kapitalis bekerja dengan sedemikian cerdasnya. Ia tidak perlu menciptakan kebutuhan dari nol. Ia cukup memanipulasi kasih sayang yang sudah ada, dengan memberinya harga. Hihi

 

Nah, di jantung pembahasan ini, rasa cinta diwujudnyatakan menjadi produk. Mantap, bukan!? Perhatian manusia diterjemahkan menjadi jasa. Kecemasan lalu dinamai asuransi. Rasa bersalah lantaran meninggalkan hewan piaraan disambut dengan layanan penitipan. Uuh, bahkan sejumput rasa sayang yang paling sederhana pun dapat diubah menjadi transaksi. Kwkwk.

 

Tetapi, sekali lagi, jangan salah paham. Saya bukannya sedang mengajak kita berhenti memelihara kucing, anjing, burung, ikan, dan binatang lainnya. Tidak. Sama sekali tidak. Saya sendiri hanya sedang curiga: jangan-jangan di balik kecintaan kita pada binatang ada sesuatu yang sedang kita sembunyikan; jangan-jangan kita bukan hanya memelihara binatang; jangan-jangan, tanpa sadar, kita sedang memelihara bagian dari diri kita yang semakin sulit menemukan tempat di antara manusia. dan kalau memang itu benar, pertanyaannya menjadi sedikit lebih serius, tentunya:

 

Apakah kita menyayangi binatang karena kita semakin mencintai kehidupan, atau karena kita sudah kian lelah menghadapi manusia? apakah kita semakin mencintai kehidupan atau justru ada kaki tangan kapitalisme yang sengaja atau tanpa sadar kita tumbuh-suburkan, ada sebuah industri besar sedang berdiri sembari tersenyum lantaran telah berhasil memonetisasi hubungan itu? Sekian dulu.

 


Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
Haha
1x donasi
Rp50.000
#2
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
2x donasi
Rp6.000
#3
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#4
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama πŸ˜„
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 12 Aug 2026
Diperbarui: 11 Sep 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!