Logo
Cara Paling Halus Membunuh (Ke)manusia(an)

Cara Paling Halus Membunuh (Ke)manusia(an)

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
📝 Kebudayaan kita
👁️ 479 • ❤️ 1 • 💬 0
⏱️ 1 menit
📅 18 Feb 2026
Ringkasan:
Selama ukuran kemajuan kita masih ditentukan oleh mahalnya proyek dan besarnya ambisi yang tak jelas, selama itu pula kita akan terjebak dengan pembangunan dunia luar tetapi pelan-pelan menggerus semesta batin pedalaman dan kedirian, serta merancang cara paling halus nan gigantis untuk membunuh kemanusiaan kita.
Aa AA

Ada hal yang perlahan menguap dari kebudayaan, tetapi sangat sedikit di antara kita yang merasa kehilangan: seni. Ia sebetulnya tidak dilarang, tidak diberangus secara terang-terangan, tidak pula dianggap musuh oleh negara, tetapi ia dipinggirkan secara sistematis. Dibiarkan hidup sekadarnya, ibarat pelengkap yang boleh ada, boleh juga tidak. Kayak mantan gitu. Hehe. 



Di dunia ketiga seperti Konoha ini, seni tidak dijadikan sebagai jantung kebudayaan—ia hanya ornamen tambahan. Sementara kesadaran kemanusiaan kita diseret ke proyek, industri dan ambisi yang kurang jelas peruntukannya.

 

Kebudayaan yang kita kembangkan bukan seni, filsafat maupun agama dengan nilai kemanusiaan yang relatif lebih murah serta gargantuan mengasah kepekaan; yang  menyuarakan nilai-nilai universal dan diterima hampir semua kalangan serta suku bangsa di mayapada ini.

Iklan

 

Wajah kebudayaan kita didalangi oleh invisible hand yang menggerakkan industri berbiaya mahal: proyek ini, proyek itu, bahkan hasrat penjelajahan dan penaklukan luar angkasa serta pembuatan senjata pembunuh massal. Yang sebenarnya kalau dipikir-pikir, tidak punya dampak langsung pada kehidupan; pada manusia dan alam. Malah sebaliknya, misi yang tak tentu arah dan tak jelas peruntukkannya ini merusak dan menghancurkan bumi.

 

Aneh-aneh memang ambisi para kartel-kartel racun dan segerombolan oligark serta sekawanan elit ini. Mereka dipesona -simakan oleh sesuatu yang megah secara visual tetapi kering secara spiritual. Mereka bangga pada bangunan yang tinggi menjulang, namun alpa dan abai pada kedalaman. Padahal, kebudayaan seharusnya bukan tentang apa yang paling mahal, melainkan yang paling berdampak pada kehidupan—yang paling mampu membentuk dan memahat karakter dan kepribadian.

 

Seni tidak Mati, Ia Disingkirkan

 

Herbert Marcuse, dalam One-Dimensional Man, sudah lama mengingatkan bahaya ini. Modernitas, menurutnya, menciptakan manusia satu dimensi—manusia yang cara berpikirnya dibatasi oleh sistem industri, konsumsi, produksi, dan apa yang kerap kita namai efisiensi. Dan dalam sistem seperti ini, seni atau pun filsafat dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya.

 

Mengapa? Lantaran seni menyuarakan kebebasan berekspresi. Seni murni, alih-alih tunduk pada logika produksi; patuh pada ideologi dominan, ia justru mempertanyakan, mengganggu bahkan memberontak pada kemapanan, status quo. (Idealnya begitu, sekalipun ada seniman yang menghamba pada kuasa dan uang)

 

Bagi Marcuse, modernitas secara halus menyingkirkan seni dari pusat kebudayaan. Bukan dengan melarangnya, melainkan dengan membuatnya terasa tidak relevan; tidak prioritas; tidak penting. Seni dibiarkan hidup, tetapi tidak diberi ruang berkembang yang subur dan layak.

 

Sekaitan dengan itu, karena seni adalah ruang di mana manusia mampu membayangkan dunia berbeda dari sistem yang mengekangnya; yang memantik lahirnya kemungkinan-kemungkinan lain; menghidupkan imajinasi; menggugah kesadaran manusia bahwa realitas yang ada bukan satu-satunya kemungkinan; dan kesadaran semacam ini sangat berbahaya bagi sistem yang menginginkan ketunduk-patuhan, keseragaman dan tidak banyak bertanya, maka jangan heran jika seni—yang sejatinya adalah filsafat yang ekspresif nan puitis—mesti dipinggirkan dan diberangus perlahan-lahan.

 

Ia dibunuh dengan tidak benar-benar didukung. Ia tumbuh tanpa perhatian, seolah tetanaman liar di pinggir jalan. Sementara yang disemai, disiram, serta dipupuk dengan ambisi tak berkesudahan adalah industri, proyek nir-makna, hilirisasi, program-progam politik tak jelas dan simbol-simbol kemajuan mahal semu lainnya.


Inilah proyek manusia satu dimensi yang diinginkan para bromocorah dan sekawanan elit global. Manusia yang hanya melihat dunia dari kacamata fungsi dan guna di satu sisi serta mengabaikan perasaan dan makna di sisi lain.

 

Pedalaman yang Didangkalkan

 

Kita hidup di kota yang semakin canggih, tetapi manusia di dalamnya kian merasa hampa nan ringkih. Kita dikelilingi dengan apa yang kita namai kemajuan, namun semakin sulit merasakan kebermaknaan dan kedalaman. Kita sibuk ini dan itu tapi seolah tidak tahu untuk apa dan mengapa.

 

Sebenarnya, kalau ditelaah dengan baik, ini tidak lain karena kebudayaan kita—yang sebetulnya seperangkat panduan, kurikulum agar kita menjadi manusia—tidak dirancang-bangun untuk menghidupkan semesta batin (ke)manusia(an); mengasah kepekaan; memperluas empati; dan  memperdalam makna hidup. Kebudayaan kita tak ubahnya etalase kompetesi yang difestifalisasi sedemikian sensasional, bukan ruang pendidikan karakter, pembentukan jiwa, dan upaya pendakian spiritual.

 

Bahkan kesenian tertentu yang diberi sedikit ruang untuk berkembang, musik semisal, seolah sengaja didangkalkan. Anehnya, kita mengira sedang bergerak maju, padahal yang terjadi adalah penyempitan cara berpikir, cara merasa, dan cara memahami hidup.


Dan, nampaknya, selama ukuran kemajuan kita masih ditentukan oleh mahalnya proyek dan besarnya ambisi yang tak jelas, selama itu pula kita akan terjebak dengan pembangunan dunia luar tetapi pelan-pelan menggerus semesta batin pedalaman dan kedirian, serta merancang cara paling halus nan gigantis untuk membunuh kemanusiaan kita.

 

 


Iklan
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 18 Feb 2026
Diperbarui: 28 Mar 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. © 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!