Sore itu, Subaidah mencabut beberapa batang serai di kebun kecil samping rumah–menyambut wangi sedap yang akan menguar nanti malam, saat ia meracik rica-rica dan ketupat demi menyambut tamu lebaran besok.
“Nanti mau masak apa?” Tiba-tiba Titin, tetangganya, datang mengejutkan lamunannya.
“Oh! Ini, nanti mau masak rica-rica ayam sama ketupat saja,” ujar Subaidah sambil melanjutkan memanen cabai yang tidak jauh dari tanaman serai itu.
“Saya... sebenarnya mau masak rawon iga sapi, tapi...” Ujar Titin, suaranya merendah di ujung kalimat, nyaris berbisik. Ia menunduk, memainkan ujung jilbabnya.
“...tapi, uangnya belum cukup,” lanjutnya terbata-bata, menatap ragu dengan tatapan memohon.
Saat ini, Subaidah benar-benar enggan meladeni ocehan tetangganya itu. Ia sudah bisa menebak ujung pembicaraan ini: pasti ingin meminjam uang lagi.
'Duh! Utang yang kemarin saja belum lunas, sekarang sudah mau meminjam lagi?' batin Subaidah dongkol.
“Sekarang, berapa harga daging sekilo?” tanya Subaidah akhirnya. Ia merasa risih ditatap sedemikian rupa oleh tetangganya itu. Namun, toh, jika besok dia kesulitan, ke mana lagi harus meminta pertolongan kalau bukan pada tetangga? Terpaksa, kerukunan semu itu harus tetap ia jaga.
“Kemarin saya tanyakan di pasar, katanya sekilo seratus enam puluh ribu, Mbak Idah,” tutur Titin panjang lebar dengan nada mendesak. “Tapi, rencana saya mau masak tiga kilo. Soalnya teman kerja Mas Akmal banyak yang mau datang,” lanjutnya, matanya menyiratkan penuh harap.
Mendengar hal itu, Subaidah tertegun. Ia menghitung sisa uang di dompet–hanya ada delapan ratus lima puluh ribu rupiah. Padahal, ayam, sirop, hingga kue kering dan segala perintilannya belum dibeli. Subaidah memutar otak, berencana hanya membeli ayam seratus ribu dapat tiga ekor. Dengan tiga ekor ayam, ia rasa cukup untuk menu rica-rica nanti malam.
Ada pergulatan batin sejenak sebelum akhirnya Subaidah menghela napas panjang.
“Baiklah, ini saya pinjamkan empat ratus lima puluh ribu.”
Akhirnya, Subaidah memutuskan meminjamkan uang itu setelah mengalkulasi ulang kebutuhannya. Dirasa cukup jika ia berhemat, apalagi suaminya mengatakan THR akan cair nanti malam. Batinnya menenangkan diri, berharap semua kebutuhan lebaran bisa terpenuhi.
“Terima kasih. Nanti kalau Mas Akmal sudah dapat pasungan, langsung saya lunasi, termasuk utang yang kemarin, hehe...” janji Titin menggebu-gebu. Ia hampir melompat, tidak sabar ingin segera memacu langkah menuju toko daging sebelum kiosnya tutup.
“Pak, saya keluar belanja ayam dulu," pamit Subaidah kepada suaminya.
“Iya, hati-hati. Sebentar lagi malam,” jawab suaminya tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi, sementara uap kopi hitamnya masih mengepul di sela jemarinya.
Di sepanjang perjalanan, Subaidah telah menanam tekad sekuat baja untuk tidak menyentuh uangnya sepeser pun di luar rencana. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Titin tepat di depan kios.
Ternyata, Titin sudah lebih dulu berada di kios daging–tepat bersisian dengan penjual ayam. Ia tampak larut dalam obrolan hangat bersama seorang pembeli lain yang juga tetangga mereka, sehingga tidak menyadari kehadiran Subaidah yang berdiri tidak jauh darinya.
“Wah! Mbak Titin, sepertinya mau masak besar, nih?” seloroh salah seorang pembeli di dekat Titin.
“Besok kalian ke rumah, ya. Saya masak rawon iga sapi,” ujar Titin lantang, nada suaranya terselip pamer yang kentara.
“Siap! Kebetulan suami kita kan sekantor, jadi saya pasti datang tanpa sungkan,” timpal pembeli lain, disambut tawa renyah mereka.
Subaidah, yang menangkap setiap patah kata percakapan itu, memilih tetap bungkam. Ia memfokuskan tatapan pada potongan ayam segar di depannya, ia tidak berniat sedikit pun untuk menyela. Padahal hatinya sedikit teriris. Lagi pula, Titin sama sekali tidak mengundangnya–mungkin karena suaminya tidak berada di lingkaran kerja yang sama dengan mereka.
Komentar (4)