Logo
βŒ•
Leiden Is Lijden #5

Leiden Is Lijden #5

Andi Muhammad Rifqi Fatahillah
Andi Muhammad Rifqi Fatahillah
@Andi Muhammad Rifqi Fatahillah
πŸ“ Perbincangan Politik
πŸ‘οΈ 12 β€’ ❀️ 0 β€’ πŸ’¬ 0
⏱️ 1 menit
πŸ“… 26 Mar 2026
Ringkasan:
Melihat bagaimana negara bekerja hari ini, tidakkah naif apabila kita masih berharap bahwa jargon "Generasi Emas" saat kalender telah menunjukkan angka 2045 benar-benar dapat terwujud, atau hanya sekadar utopia belaka?
Aa AA

Asa Itu Masih Ada


Melihat bagaimana negara bekerja hari ini, tidakkah naif apabila kita masih berharap bahwa jargon "Generasi Emas" saat kalender telah menunjukkan angka 2045 benar-benar dapat terwujud, atau hanya sekadar utopia belaka? But, numbers never lie; kerusakan yang telah dipupuk sejak awal akan memaksa generasi mendatang membayar harga yang sangat mahal dari itu semua.


Pilihannya jelas: menghitung mundur waktu yang suatu saat nanti akan menampar kita semua dengan bukan saja penyesalan melainkan penderitaan yang juga ikut di dalamnya, atau mengambil pilihan lain melalui gerakan perlawanan terhadap rezim yang sungguh ugal-ugalan.


Kita perlu menengok kembali catatan sejarah peradaban manusia bahwa kegelapan politik bukanlah sebuah titik akhir, melainkan pilihan. Di Korea Selatan, gerakan rakyat menumbangkan rezim otoriter Park Chung-hee dan melahirkan demokrasi baru pada 1987.

Iklan


Di Brasil, gerakan β€œDiretas JÑ” berhasil menekan rezim militer hingga membuka jalan bagi demokratisasi. Artinya, kesejahteraan dan kemakmuran yang diperoleh oleh rakyat tidak pernah lahir sebagai hadiah dari penguasa, melainkan hasil tarikan dari perlawanan rakyat yang menolak tunduk pada kekuasaan.


Satu hal: Perlawanan tidaklah selalu harus dimulai dengan gemuruh badai di jalanan. Ada sebuah konsep yakni Efek Kupu-Kupu (Butterfly Effect) bermula dari sebuah pertanyaan retoris yang diajukan oleh Edward Norton Lorenz pada tahun 1961: β€œApakah kepakan sayap kupu-kupu di Brasil dapat menyebabkan tornado di Texas?”


Metafora ini bukan sekadar imajinasi puitis, melainkan sebuah terobosan ilmiah yang meletakkan dasar bagi Teori Kekacauan (Chaos Theory). Secara eksplisit, Lorenz mengemukakan bahwa perubahan kecil di suatu sistem dapat menyebabkan dampak yang besar terhadap sistem yang lain.


Oleh karenanya, penulis percaya bahwa prinsip tersebut mampu menjadi landasan optimisme sebagai narasi awal dalam mengkritisi tatanan bangsa yang masih sarat akan pembenahan.


Melalui akumulasi momentum dan keterhubungan kolektif bersama rakyat yang sekurang-kurangnya masih sadar dan peduli akan masa depan sebuah bangsa, langkah kecil yang dilakukan pada suatu saat nanti mampu memicu gelombang reformasi dalam skala yang jauh lebih besar.

Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama πŸ˜„
Andi Muhammad Rifqi Fatahillah
@Andi Muhammad Rifqi Fatahillah
tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya.


Info Pembaruan

Terbit: 26 Mar 2026
Diperbarui: 28 Mar 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Andi Muhammad Rifqi Fatahillah. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 Andi Muhammad Rifqi Fatahillah

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!