Asa Itu Masih Ada
Melihat bagaimana negara bekerja hari ini, tidakkah naif apabila kita masih berharap bahwa jargon "Generasi Emas" saat kalender telah menunjukkan angka 2045 benar-benar dapat terwujud, atau hanya sekadar utopia belaka? But, numbers never lie; kerusakan yang telah dipupuk sejak awal akan memaksa generasi mendatang membayar harga yang sangat mahal dari itu semua.
Pilihannya jelas: menghitung mundur waktu yang suatu saat nanti akan menampar kita semua dengan bukan saja penyesalan melainkan penderitaan yang juga ikut di dalamnya, atau mengambil pilihan lain melalui gerakan perlawanan terhadap rezim yang sungguh ugal-ugalan.
Kita perlu menengok kembali catatan sejarah peradaban manusia bahwa kegelapan politik bukanlah sebuah titik akhir, melainkan pilihan. Di Korea Selatan, gerakan rakyat menumbangkan rezim otoriter Park Chung-hee dan melahirkan demokrasi baru pada 1987.
Di Brasil, gerakan βDiretas JΓ‘β berhasil menekan rezim militer hingga membuka jalan bagi demokratisasi. Artinya, kesejahteraan dan kemakmuran yang diperoleh oleh rakyat tidak pernah lahir sebagai hadiah dari penguasa, melainkan hasil tarikan dari perlawanan rakyat yang menolak tunduk pada kekuasaan.
Satu hal: Perlawanan tidaklah selalu harus dimulai dengan gemuruh badai di jalanan. Ada sebuah konsep yakni Efek Kupu-Kupu (Butterfly Effect) bermula dari sebuah pertanyaan retoris yang diajukan oleh Edward Norton Lorenz pada tahun 1961: βApakah kepakan sayap kupu-kupu di Brasil dapat menyebabkan tornado di Texas?β
Metafora ini bukan sekadar imajinasi puitis, melainkan sebuah terobosan ilmiah yang meletakkan dasar bagi Teori Kekacauan (Chaos Theory). Secara eksplisit, Lorenz mengemukakan bahwa perubahan kecil di suatu sistem dapat menyebabkan dampak yang besar terhadap sistem yang lain.
Oleh karenanya, penulis percaya bahwa prinsip tersebut mampu menjadi landasan optimisme sebagai narasi awal dalam mengkritisi tatanan bangsa yang masih sarat akan pembenahan.
Melalui akumulasi momentum dan keterhubungan kolektif bersama rakyat yang sekurang-kurangnya masih sadar dan peduli akan masa depan sebuah bangsa, langkah kecil yang dilakukan pada suatu saat nanti mampu memicu gelombang reformasi dalam skala yang jauh lebih besar.
Komentar (0)