Beberapa hari lalu saat nongkrong di tempat biasa, seorang laki-laki paruh baya seketika datang dari arah berbeda. Saya melihatnya sekilas lalu kembali fokus pada bacaan. Dan, tetiba saja tanpa saya sadari suara keras menggelegar.
Yaap, tak ada hujan, tak ada badai, dia menghempaskan handbagnya di kursi samping tempat saya duduk. Hehe. Saya terkesiap dan melirik ke arah sumber suara, kemudian kembali melanjutkan bacaan.
Si Tua itu (untuk selanjutnya kita sebut begitu saja ya men-teman. pasalnya sudah tua dan menjengkelkan. Saya sebenarnya ingin membunuhnya dalam tulisan ini, lantaran ia meludah tepat di samping saya dan percikan ludahnya terciprat di sekujur kaki saya. Dan, jangankan minta maaf, menunjukkan sedikit penyesalan pun, tidak.
Dan, satu lagi, apakah puan dan puan tahu? Itu ia lakukan selepas mengatai saya orang kampung karena logat saya yang pedalaman. Bangsat. Hehe). Tapi, lupakan saja, namanya juga Jakarta. Sepenuturan istri saya banyak orang stress lantaran kehidupan yang serba sulit di sini. Hihi.
Kita lanjut, guys. Si Tua yang berpakaian sangat rapi ituβcelana kain, baju kemeja yang dimasukkan ke dalam, serta sepatu pantofelβmeletakkan dua hapenya di samping saya, lalu bertanya perihal kertas yang saya pegang dengan nada yang aduhh. Gitulah, pokoknya. Menjengkelkan, sama menjengkelkannya dengan pemerintahan kita saat ini. Saya lalu menjawab sekenanya dan terus membaca.
Beberapa menit berselang, Si Tua itu kembali bertanya, "kamu ada masalah ya?", waduh, Kenapa sih Si Tua ini? Rese banget. Ia bertanya dengan nada yang tidak kalah menjengkelkan, tentunya.
Saya melirik ke samping seraya menutup buku dan bersiap menjawab, tapi belum sepatah kata pun mencuat dari mulut saya, bapak ini keburu melanjutkan, "saya baru buka kantor hukum di belakang sana, kamu kalau ada masalah bilang saja. Nanti kita selesaikan" Haaa. Ngomongnya sambil menarik rokok dari selongsongannya. Hehe.
Saya terdiam menghela nafas dalam-dalam, bukan karena marah maupun jengkel di momen itu, tetapi saya tersadar bahwa ternyata ada juga orang yang berharap orang lain punya masalah. Hehe. Dan ternyata orang tua ini datang mau cari masalah, rupanya. Pantas saja. Ya, si Tua ini berharap dapat cuan dari masalah orang lain. Hebat juga dia! Hihi.
Saya jadi teringat dengan salah satu pengalaman masa kuliah, men-temen. Kala itu HP belum secanggih sekarang. Tentu sudah ada yang canggih dengan berbagai spesifikasi, tapi harganya lumayan mahal untuk mahasiswa.
Jadi, begini, dua orang yang baru saja direkrut sebagai wartawan mewawancarai salah seorang pejabat. Si A, kita sebut saja demikian, memegang HP yang kameranya belum cukup diri mengambil gambar disodorkan dekat ke mulut narasumber, dan si B terlihat sedang mengambil video dengan handycam di tangan.
Seseorang yang melihat kejadian itu lalu berbisik ke temannya: perhatikan itu, si A lagi cari suara dan si B sedang cari muka. Kwkwk. Jangan tersinggung ya, ini hanya lelucon, lantaran waktu itu musim kampanye. Hehe. Terus, apa hubungannya dengan paragraf sebelumnya? ahh, anggap saja intro. Gitu aja ko, repot. Hihi.
Kita lanjut dulu, guys. Sebenarnya saya juga curiga, jangan-jangan Si Tua ini hanya meluapkan marahnya ke saya lantaran kopi yang disuguhkan pemilik warung kurang panas. Dan ia sudah beberapa kali protes, atau bisa jadi layanan seksualnya semalam kurang memuaskan, makanya ia datang cari masalah. Entahlah. Boleh jadi, bukan? Namanya juga udah tua.
Tapi, jujur, kejadian ini mengingatkan saya dengan salah satu tempat paling ramai dikunjungi orang di samping tempat saya belajar dulu: pengadilan agama. Masalah betul-betul cuan di sana. Ya, perceraian adalah ladang cuan bagi advokat yang berkantor di sekelilingnya. Menghampiri seribu pertahunnya. Ngeri!
Tapi, barangkali manusia memang begitu. Kita jarang melihat orang lain sebagaimana adanya manusia. Kita seringkali melihat melalui kategori yang sudah ada di kepala kita. Seorang pedagang, semisal, kira-kira akan melihat orang lain sebagai calon pembeli.
Dokter cenderung memandang orang lain sebagai pasien dan tentu cuan. Pengacara kemungkinan melihat setiap hal sebagai perkara. Kwkwk. Demikian juga saya dan sidang pembaca, bisa jadi mengkategorisasi apapun berdasarkan latar belakang masing-masing. Barangkali.
Jadi, tanpa sadar, kita lebih sering melihat orang lain dari kacamata keuntungan, dan pelbagai prospek lain yang tentu tanpa sengaja itu adalah sebentuk eksploitasi. Lantaran ada perbedaan antara membantu seseorang yang sedang punya masalah dan berharap orang lain punya masalah, bukan? Tapi, di sistem pemerintahan yang kacau balau ini, ya mau gimana lagi. Hihi.
Nah, pernah dengar cerita Diogenes, keng-kawan, ya? Baik, suatu ketika, Alexander Agung datang menemui filsuf yang hidup sangat sederhana itu. Alexander, sebagai seorang raja agung, tentu datang dengan segala sesuatu yang dimiliki seorang penguasa: kekuasaan, pengaruh, dan kemampuan untuk memberikan apa pun yang diinginkan orang lain.
Tetapi ketika ditanya apa yang ia bisa berikan, Diogenes meminta hal yang bahkan Alexander tak pernah sangka-sangka: Menyingkir sedikit karena tubuhnya menghalangi sinar matahari. hihi. Ya, Anda tidak sedang salah baca. Ia hanya diminta menyingkir, bukan duit atau makanan.
Jadi, saya kira, ini bukan semata sindiran, tetapi karena memang tidak semua orang membutuhkan apa yang kita punya. Boleh jadi Anda punya ini dan itu, hal yang bahkan bisa biking club janda Nusantara, kalau ada, sampai nangis darah menginginkannya, tapi bagi orang tertentu itu tidak penting sama sekali. Hehe.
Kita coba lanjut dikit lagi ya, guys. Saya sebetulnya tidak tahu apakah Si Tua itu memang berpikir seperti itu. Bisa saja ia benar-benar bermaksud membantu. Boleh jadi ia memang hanya sedang menawarkan jasanya.
Tapi saya tidak mau terlalu jauh menebak isi kepalanya yang sedang tidak baik-baik saja itu. Dan, bagaimana pun, pertemuan singkat itu cukup membuat saya berpikir perihal bagaimana seharusnya kita memaknai kehadiran kita di tengah-tengah orang lain.
Pasalnya, benar kita berbagi dunia, namun bisakah kita di beberapa momen cukup menjadi manusia yang kebetulan bertemu di sebuah tempat pada senja sore, misalnya. Tanpa harus memiliki kepentingan, tanpa harus menjadi sesuatu bagi satu sama lain, tanpa harus menjadi klien. Tanpa harus menjadi pelanggan. Hihi.
Dan, saya kira, itu juga bagian dari cara kita menghormati keberadaan orang lain: membiarkan mereka ada tanpa buru-buru mendefinisikan, tanpa buru-buru melabel, apalagi memandangnya sebagai mangsa. Hehe. Sekian dulu.
Komentar (0)